Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Ilmuwan cari resep sup berumur 2.400 tahun

Arkeolog menemukan sebuah mangkuk sup penuh tulang yang diperkirakan berumur 2.400 tahun. Saat ini, pengujian sedang dilakukan untuk mengetahui kandungan lengkap dalam mangkuk tersebut. Ketika kandungannya sudah diketahui, kata arkeolog, "Kita bisa mencicipi sup yang mungkin populer 2.400 tahun yang lalu."

Liu Daiyun dari Shaanxi Provincial Institute of Archaeology mengatakan kalau ini adalah pertama kalinya sup tulang ditemukan dalam sejarak arkeologi China. "Penemuan ini penting untuk mengetahui kebiasaan makan serta budaya pada 457-221 SM," katanya.

Mangkuk tersebut ditemukan pada saat para arkeolog menggali kuburan kuno di kota Xian, China. Kota Xian merupakan salah satu kota tertua di China dan disebut-sebut memiliki 3.100 tahun sejarah dan pernah menjadi ibu kota China selama 1.100 tahun. Di kota ini pula pada tahun 1974, para arkeolog menemukan Terracotta Army, sebuah koleksi patung yang menggambarkan tentara Kaisar Pertama China Qin Shi Huang.

Kuburan kuno itu sendiri diangkat untuk keperluan perluasan bandara. Demikian menurut media masa setempat. Meski belum diketahui secara pasti, para arkeolog menerka kalau kuburan itu milik tuan tanah atau tentara berpangkat rendah. Di situ, selain menemukan mangkuk sup, arkeolog juga menemukan kendi berisi cairan yang tidak berbau yang mereka terka sebagai minuman anggur.

Sumber: Mother Nature Network

Triceratops kecil ditemukan di Korea Selatan


Triceratops kecil ditemukan di Korea Selatan

http://www.springerlink.com

Dinosaurus yang diduga punya hubungan dengan Triceratops, memiliki kepala tertutup dan struktur ekor kipas pernah hidup di daerah yang kini dikenal sebagai Korea Selatan pada sekitar 103 juta tahun lalu. Ini adalah penemuan dinosaurus bertanduk pertama di semenanjung Korea.

Penemuan yang terbit dalam jurnal Naturwissenschaften: The Science of Nature pada 18 November ini meliputi tulang punggung, tulang pinggul, sebagian lengan belakang, dan ekor yang hampir utuh. Dinosaurus ini diberi nama Koreaceratops hwaseongensis dan diduga hidup pada periode awal Cretaceous. Penemuan ini, menurut Michael J. Ryan, mengisi kekosongan 20 juta tahun antara temuan fosil di Asia dan kemunculan pertama di Amerika utara. Ryan adalah seorang kurator dan kepala Clevelend Museum of Natural History bagian paleontologi vertebrata yang terlibat dalam penulisan jurnal.

"Ini penemuan langka," kata Ryan. Fosil dinosaurus tidak biasanya ditemukan di kawasan ini, kecuali bukti adanya telur dinosaurus dan jejak kaki.

Dinosaurus Korea ini diperkirakan memiliki panjang 150 hingga 180 centimeter dengan bobot 30 hingga 50 kilogram. Dengan ukuran tersebut, dinosaurus ini terbilang kecil dibandingkan dengan kerabat Triceratops yang ditemukan di Amerika Utara. Bentuk wajahnya seperti paruh burung beo di depan rahangnya membuat peneliti menduga hewan ini herbivora.

Ryan dan koleganya menduga dinosaurus ini bipedal dan dapat bergerak dengan cepat. "Ekornya unik," ujar Ryan. Untuk seekor dinosaurus, ekornya pendek. Beberapa duri panjang yg disebut neural arches (lengkungan saraf) menyembuL dari ekor dengan embel-embel.

Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa dinosaurus memiliki ekor seperti ini. "Salah satunya murni untuk pamer. jadi, kipas di ujung ekor, bisa saja berwarna dan jika dibalikkan dapat menjadi alat memberi sinyal, dikembangkan seperti bendera sehingga bisa memberi sinyal kepada hewan lain atau untuk menarik lawan jenis," ucap Ryan.

Bentuk ini juga membantu pertukaran panas. Ekor ini juga bisa membantu dinosaurus tersebut berenang. Para peneliti menduga dinosaurus ini menghabiskan sebagian watunya untuk berburu makanan di air.

Sumber: LiveScience

Trompet berumur 3.000 tahun dibunyikan kembali

Alat musik berupa trompet dari cangkang kerang, yang ditemukan di sebuah situs religi sebelum masa Inca di Peru, dibunyikan kembali.

Trompet tersebut menghasilkan suara mendengung yang menakutkan. Berdasarkan analisis, yang diterbitkan pada tanggal 17 November di Second Pan-American/Iberian Meeting on Acoustics di Cancun, Meksiko, trompet tersebut digunakan dalam upacara keagamaan. "Terasa di dada kalau tekstur suaranya kasar, seperti raungan hewan," kata Jonathan Abel, ahli akustik dari Center for Computer Research in Music & Acoustic di Stanford University, Amerika Serikat.

Para arkeolog mengangkat 20 trompet yang terbuat dari cangkang kerang Strombus galeatus di Chavin de Huantar, pusat upacara kuno di Andes. Cangkang-cangkang itu dikilapkan, dicat, dan diukir dengan berbagai simbol. Trompet itu memiliki lubang untuk ditiup dan celah berbentuk huruf "V". Perry Cook, ahli komputer dari Princeton Unversity, yang juga terlibat dalam studi, menyebutkan, "Celah itu mungkin untuk menaruh jempol musisi."

Para ilmuwan merekam musik yang dihasilkan dengan cara menempatkan mikrofon di dalam mulut pemain dan di trompet. Di trompet, mikrofon ditempatkan pada tempat meniup, di ruang dalam tropmet, dan di lubang pada trompet. Suara yang dihasilkan hanya 1 atau 2 nada, tapi tinggi nana berubah ketika pemain meletakkan tangan di atas lubang.

Ilmuwan juga ingin mengetahui efek tempat upacara kuno berlangsung terhadap suara trompet. Tempat upacara pada saat dahulu merupakan labirin dari batu dengan koridor yang berliku tajam serta memiliki lubang-lubang ventilasi. Para ilmuwan mendapati kalau suara trompet seolah datang dari berbagai arah. Menurut ilmuwan, pada kondisi ruangan redup, suara itu bisa bikin bingung. "Jangan-jangan, ini adalah upaya untuk membuat orang-orang jadi takut," terka Abel.

Berdasarkan temuan itu, para ilmuwan ingin mengetahui efek suara terhadap psikologi. Saat ini, studi psikoakustik itu sedang berjalan pada penelitian yang berbeda. Studi tersebut mempelajari efeknya pada manusia pada umumnya, bukan hanya pada peradaban kuno. "Suara yang didengar telinga bisa memengaruhi sikap atau menghadirkan suatu pengalaman psikologi pada kondisi tertentu," kata Abel.

Suara alat musik itu bisa didengarkan di sini.

Sumber: Discovery News