Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Otak kecoak sediakan antibiotik

Otak kecoak sediakan antibiotik
Otak kecoak memproduksi antibiotik yang bisa membunuh bakteri yang mematikan bagi manusia, seperti Staphylococcus aureus (MRSA) dan Escherichia coli. Demikian temuan para ilmuwan pada awal September ini. Dua spesies belalang juga sudah diteliti dan memiliki antibiotik yang serupa. Dunia serangga, yang mengisi 80 persen dari seluruh fauna, didapati memiliki antibiotik baru.

Penemuan ini sangat penting, menurut Simon Lee dari Universitas Nottingham, Inggris. "Selama ini para ilmuwan sudah mencari ke sana ke mari untuk mengobati berbagai penyakit menular, termasuk MRSA dan E. coli, yang tahan terhadap antibiotik tradisional," kata Lee.

Otak kecoak, yang menurut Lee baunya seburuk rupanya, memiliki mekanisme yang cerdas untuk membunuh bakteri. Lee dan rekannya meneliti sembilan tipe molekul yang ada di dalam otak kecoak. Mereka mendapati kalau setiap molekul memiliki tugas untuk membunuh tipe bakteri tertentu. "Mekanisme yang sangat cerdas, membuat serangga bisa hidup di lingkungan yang paling kotor," kata Lee.

Antibiotik dari serangga ini belum akan ada dalam waktu dekat, menurut Lee, tapi temuan ini merupakan cahaya terang yang memberi harapan. Sebabnya, ketika para ilmuwan mencoba menambahkan antibiotik serangga ke sel manusia, tak ada efek beracun.

Sumber: National Geographic News
Foto: sxc.hu

Berbeda: kanker paru-paru perokok dan bukan perokok

Penelitian terbaru menemukan adanya perbedaan antara penyakit kanker paru-paru para perokok dan orang-orang yang tidak merokok.

Penelitian tersebut dipresentasikan dalam konferensi Frontiers in Cancer Prevention Research, yang diadakan oleh American Association for Cancer Reseach pada Selasa (8/11) lalu.

Seperti dikemukakan Kelsie Thu dari BC Cancer Research Center Canada pada MyHealthNewsDaily, ada hampir dua kali lebih banyak kecenderungan perubahan DNA dalam tumor orang yang pernah merokok dibandingkan dengan tumor pada orang yang tidak merokok. Artinya, kanker pada perokok dan bukan-perokok dapat dibedakan.

Orang bukan perokok memiliki lebih banyak mutasi pada sebuah gen yang tugasnya melakukan penyandian molekul bernama reseptor faktor pertumbuhan epidermal (epidermal growth factor receptors atau EGFRs), yang menerima sinyal di membran sel. Dan mutasi EGFR bukan satu-satunya mutasi.

Peneliti juga menemukan lebih banyak perubahan wujud di genom nonperokok daripada genom perokok. Oleh karena itu, kemungkinan besar kanker tumbuh melalui jalur molekular yang berbeda.

Menurut Thu, "Untuk bukan perokok mungkin (penyebabnya) menunjuk pada karsinogen, bukan dari rokok, sebab tumor mereka, yang kemudian berkembang menjadi kanker paru-paru, dipicu oleh alterasi DNA."

Hasil ini sesuai dengan penemuan sebelumnya, yakni di antaranya review dalam jurnal Nature 2007 dan review dalam Journal of Thoracic Oncology.

Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi penemuan ini. Namun sangat mungkin variasi DNA yang ditemukan dapat diaplikasikan menuju pengobatan demi melawan masing-masing tipe kanker itu.

"Dengan melakukan pengembangan dari apa yang diketahui mengenai kanker paru-paru pada orang bukan-perokok, hasilnya dapat membantu kita lebih mengerti, terutama mengarah pada peningkatan diagnosis dan stretegi pengobatan," ungkap Thu.

Berikutnya, Thu berkata, penemuan bisa ditegaskan dengan menginvestigasi berbagai gen di tumor paru-paru lainnya, untuk mencari variasi pola yang sama.

Sumber: Live Science

Efek ganda vitamin E terhadap stroke

Vitamin E ternyata bisa meningkatkan risiko suatu jenis stroke sekaligus menurunkan risiko stroke lainnya. Demikian hasil penelitan sebuah lembaga Inggris, British Medical Journal (BMJ).

Penelitian yang dirilis BMJ pada 4 November, menemukan bahwa vitamin E dapat meningkatkan risiko stroke dengan jenis haemorrhagic hingga 22 persen. Satu dari 1.250 orang yang mengonsumsi vitamin E dapat berisiko terkena jenis stroke ini. Namun, tidak dijelaskan pada level berapa vitamin ini berbahaya.

Haemorrhagic adalah kasus yang jarang ditemukan. Stroke ini terjadi saat pembuluh yang menyuplai darah ke otak pecah dan menyebabkan kerusakan otak.

Hasil penelitian BMJ menunjukkan vitamin E dapat mengurangi risiko stroke jenis ischaemic hingga 10 persen. Berbeda dengan haemorrhagic, ischaemic adalah salah satu jenis stroke yang sering terjadi. Sebanyak 70 persen kasus stroke yang terjadi adalah stroke jenis ini, stroke yang terjadi saat penggumpalan menghambat suplai darah ke otak.

Menurut Prof. Dr. dr. Hasbullah Thabrani dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, hubungan risiko stroke dan vitamin E terkait dengan karakteristik vitamin itu sendiri. "Pada dasarnya, vitamin E itu meningkatkan kekentalan darah. Jadi, saya rasa itu masalahnya," kata Hasbullah.

Dia menekankan sebaiknya hanya orang-orang yang benar-benar membutuhkan yang mengkonsumsi vitamin E tambahan. “Jadi masalah adalah kalau berlebihan. Di Indonesia, banyak iklan yang menunjukkan vitamin E seolah-olah sangat diperlukan, membuat kulit bagus dan sebagainya. Konsumsi tambahan vitamin E perlu konsultasi dengan dokter," jelas Hasbullah. Ia juga menambahkan kalau vitamin E tidak dibuang oleh tubuh. "Hanya vitamin C dan D yang dibuang tubuh melalui urin ketika terlalu banyak dikonsumsi."

BMJ pun menyarankan vitamin E dikonsumsi dengan hati-hati. “Mengingat pengurangan risiko ischaemic cukup kecil dan hasil relatif lebih parah ketimbang haemorrhagic, penggunaan bebas vitamin E harus hati-hati,” tulis laporan BMJ.

Peringatan BMJ itu diajukan mengingat semakin meningkatnya konsumsi vitamin E karena vitamin E diduga juga mampu melindungi dari penyakit jantung. Vitamin E adalah antioksidan larut lemak yang terkenal mampu menghambat peroksidasi lipid dan memelihara membran sel. Pereoksidasi lipid berperan penting dalam atherogenesis, sebuah proses di arteri. Penyakit jantung biasanya berhubungan dengan atherogenesis.

Chip mikro pada tulang belakang redakan rasa sakit

Chip mikro pada tulang belakang redakan rasa sakit

Tsu Nimh/stock.xchng

Para peneliti di Sydney telah menemukan cara untuk meminimalkan rasa sakit dengan cara menempelkan chip berukuran mikro di tulang belakang. Chip berfungsi mencegat rasa sakit dalam perjalanan menuju otak sebagai pusat saraf.

Berdasarkan keterangan dari National ICT Australia (NICTA), chip dapat mengukur berbagai sinyal yang bertugas mengirimkan informasi ke pusat saraf lantas menyeleksi sinyal penyalur rasa sakit itu. Tanpa sinyal, pesan tentang rasa sakit tidak sampai ke otak.

Chip pintar ini sengaja didesain bagi orang-orang yang menderita keluhan sakit serius di bagian punggung atau kaki selama sumber penyakit ditangani. Chip paling strategis ditanamkan di tulang belakang, juga di bagian-bagian tubuh lain yang terletak antara otak dan sumber rasa sakit.

Tidak perlu khawatir pelekatan chip akan menjadi berbahaya, karena perangkat telah bersifat biokompatibel. Teknologi baru ini tentu berdampak positif pada tingkat produktivitas pekerja, sebagaimana diprediksi para perancangnya.

Sumber: Popular Science

Chip mikro pada tulang belakang redakan rasa sakit

Chip mikro pada tulang belakang redakan rasa sakit

Tsu Nimh/stock.xchng

Para peneliti di Sydney telah menemukan cara untuk meminimalkan rasa sakit dengan cara menempelkan chip berukuran mikro di tulang belakang. Chip berfungsi mencegat rasa sakit dalam perjalanan menuju otak sebagai pusat saraf.

Berdasarkan keterangan dari National ICT Australia (NICTA), chip dapat mengukur berbagai sinyal yang bertugas mengirimkan informasi ke pusat saraf lantas menyeleksi sinyal penyalur rasa sakit itu. Tanpa sinyal, pesan tentang rasa sakit tidak sampai ke otak.

Chip pintar ini sengaja didesain bagi orang-orang yang menderita keluhan sakit serius di bagian punggung atau kaki selama sumber penyakit ditangani. Chip paling strategis ditanamkan di tulang belakang, juga di bagian-bagian tubuh lain yang terletak antara otak dan sumber rasa sakit.

Tidak perlu khawatir pelekatan chip akan menjadi berbahaya, karena perangkat telah bersifat biokompatibel. Teknologi baru ini tentu berdampak positif pada tingkat produktivitas pekerja, sebagaimana diprediksi para perancangnya.

Sumber: Popular Science

Selasa, 23 November 2010

Taxux Sumatrana Mengandung Taxol untuk Kanker







taxus_sumatrana

(Foto: Internet)

Jakarta - Senyawa kimia taxol yang digunakan untuk pengobatan kanker payudara dan indung telur kemungkinan juga terdapat pada tanaman Taxus sumatrana yang tumbuh di Sumatera dan Sulawesi, untuk menggantikan tanaman Taxus brevifolia yang terancam punah.

"Taxol pertama kali ditemukan dalam ekstrak pegagan kayu Taxus brevifolia. Sayangnya produksi dari satu jenis pohon ini saja terlalu sedikit sementara kebutuhan banyak. Spesies ini terancam punah," kata pakar Botani yang menjadi penasihat senior ilmu lingkungan Unesco, Kuswata Kartawinata PhD, di Jakarta, Selasa (24/8).

Taksonomilah yang kemudian memrediksi adanya spesies lain yang mungkin mengandung taxol dan ternyata terbukti spesies Taxus baccata mampu menyediakan senyawa taxol lebih banyak daripada Taxus brevifolia, selain itu lebih mudah ditanam sehingga tak akan membuat tanaman itu menjadi punah.

Taksonomi juga memprediksi senyawa kimia taxol kemungkinan juga terdapat pada tanaman Taxus sumatrana yang tumbuh di Sumatera dan Sulawesi, ujar mantan peneliti LIPI yang baru saja memberi Orasi Ilmiah pada "Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture" pada puncak Hari Ulang Tahun ke-43 LIPI.

Melalui taksonomi, dunia juga berhasil mencari senyawa kimia yang mirip Castanospermine yang penting untuk penelitian HIV, yakni pada marga Alexa tumbuhan polong-polongan dari suku Leguminosae dari Amerika Selatan.

"Senyawa tersebut pertama kali ditemukan dalam Castanospermum australe di Australia yang pada saat itu merupakan satu-satunya spesies dari marga Castanospermum," ujarnya.

Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya, kecilnya kemungkinan untuk berhasil dan besarnya biaya jika untuk memperoleh zat itu dilakukan secara acak pada 280 ribu spesies tumbuhan berbunga atau dari 1,8 juta organisme yang telah diketahui.

Contoh lainnya, esktrak Ginkgo biloba yang termasuk dalam Gymnospermae, yang bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat dan sekarang telah diproduksi besar-besaran dengan harga tinggi di AS.

Disebutkannya, Ginkgo biloba adalah tumbuhan asli beriklim dingin di China dan banyak ditanam di AS dan Jepang, spesies ini tidak dapat ditanam di daerah tropik sehingga Indonesia tak dapat memproduksi ekstraknya.

Namun demikian, menurut dia, tetap bisa dicari kemungkinannya di Indonesia dengan bantuan taksonomi, yakni dengan meneliti jenis-jenis tumbuhan yang berkerabat paling dekat dengan Ginkgo biloba.

"Misalnya melinjo (Gnetum gnemon), dan spesies lain dalam suku Gnetaceae dan ordo Gnetales, atau lebih jauh lagi ordo Coniferales, seperti damar, (Agathis borneensis), tusam (Pinus merkusii), jamuju (Podocarpus blumei), sempilor (Dacrydium elatum)," katanya.

Taksonomi juga dapat memrediksi organisme yang gennya dapat ditransfer ke spesies sasaran untuk budidaya tanaman, misalnya untuk mengurangi kerentanan tanaman jagung (Zea mays) terhadap virus.

"Penangkar berpaling pada spesies liar kerabat jagung (Zea diploperennis) yang belum lama ini ditemukan di Meksiko sebagai sumber gen yang resisten virus," katanya.

Hal yang sama pemakaian Oryza glaberrima yang berkerabat dekat dengan padi (Oryza sativa) yang tumbuh liar di rawa-rawa Jawa untuk memperbaiki kualitas varietas padi, juga berkat petunjuk ilmu taksonomi, kata Kuswata sambil menambahkan bahwa taksonomi penting untuk memprediksi suatu tumbuhan yang bernilai ekonomi di masa datang.

Ilmuwan Menemukan Obat Yang Dapat Menghapus Memori







Ilmuwan telah mengembangkan metode yang dapat menghambat atau bahkan menghapus memori yang tidak dikehendaki dalam otak manusia. (YOSHIKAZU TSUNOA/ AFP/ GETTY IMAGES)
Ilmuwan asal AS dan Kanada telah mengembangkan suatu metode yang dapat menghambat atau bahkan menghapus memori yang tidak dikehendaki dalam otak manusia.

Peneliti terkait menyatakan bahwa mereka dapat menghapus memori spesifik dengan obat, sekaligus dapat memastikan memori lainnya masih tersimpan dengan baik dan utuh. Ahli saraf mendapati bahwa dengan memanfaatkan timing yang tepat memasukkan obat penghapus memori saat kita sedang teringat akan sesuatu, obat tersebut akan dapat menghalangi simpanan memori, bahkan membuat memori itu hilang.

Menurut laporan sebuah harian terbitan Inggris, penelitian ini menarik perhatian konsultan parlemen Inggris. Dengan tegas mereka mengatakan bahwa sekarang perlu adanya suatu penetapan standar baru untuk mengawasi penggunaan obat jenis ini, tujuannya mencegah jangan sampai obat ini digunakan sembarang orang sebagai “obat mujarab darurat”.

Namun ilmuwan yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini menegaskan bahwa obat penghapus ini mungkin memiliki nilai yang sangat berharga dalam mengobati gejala penyakit seperti tekanan stress karena terluka (hati) dan penyakit mental.

Dalam laporan penelitian terbaru yang diungkapkan di majalah “Psychiatry Research”, ahli penyakit jiwa dari Universitas Harvard, Boston, menggunakan obat ‘penghambat memori’ penderita yang terluka.

Profesor Nadher mengatakan, “ketika kita mengingat kenangan lama, memori-memori ini mungkin dalam keadaan belum tersimpan, sehingga kemudian harus disimpan kembali.”

Nadher menuturkan: “ketika memori menyimpan kembali, kita beri obat yang dapat menolak bagian emosi dalam memori tersebut kepada penderita. Kerja obat adalah membiarkan bagian kesadaran dalam memori tetap tersimpan utuh, sehingga dengan demikian penderita dapat mengingat semua bagian kecil, tapi tidak akan terganggu oleh memori tersebut.”

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memori dapat dikendalikan, sebab fungsi memori bagaikan terbuat dari kaca, dimana dalam proses menciptakan memori menampakkan keadaan lebur dan setelah itu menjadi padat.

Obat yang digunakan peneliti adalah propranolol. Obat ini biasanya dipakai untuk mengobati tekanan darah tinggi bagi penderita sakit jantung. Namun telah diketahui dapat mengakibatkan sakit ingatan. Mereka memakai obat ini untuk mengobati 19 korban yang pernah mengalami kecelakaan atau pelecehan seksual selama 10 hari, sekaligus meminta mereka menggambarkan ingatan atas peristiwa yang menggoreskan luka di hati yang terjadi pada 10 tahun silam.

Sepekan kemudian, peneliti mendapati bahwa penderita yang menggunakan obat tersebut, menunjukkan tanda-tanda munculnya tekanan stress lebih jarang ketika mengenang kembali luka hati di masa lalu, misalnya detak jantung bertambah cepat dan sebagainya.

Dalam sebuah penelitian baru yang dipublikasikan oleh para ilmuwan di Universitas New York, para peneliti mengatakan bahwa mereka berhasil menghapus memori tunggal dalam otak tikus, sekaligus dapat mempertahankan memori lainnya dengan baik dan utuh.

Penelitian ini menimbulkan kekhawatiran sebagian ilmuwan, mereka khawatir obat yang dipakai untuk mengubah memori mungkin akan disalahgunakan oleh masyarakat awam untuk menghapus memori yang tidak diinginkan.

Laporan baru yang dipublikasikan kantor teknologi dan ilmu pengetahuan di bawah yuridiksi parlemen Inggris memperingatkan keharusan menetapkan standar pengawasan penggunaan obat jenis ini dan secara ketat membatasi preskripsinya sehingga mereka hanya dapat membelinya apabila disertai dengan resep dokter.

Senin, 22 November 2010

Bedah Medis Kuno








Meskipun sekarang sudah jaman modern, pasien yang akan menjalani operasi bedah otak masih merasa takut dengan prosedurnya. Rongga tengkorak adalah salah satu area paling yang lemah dalam anatomi tubuh manusia, dan otak adalah bagian yang paling penting di mata ahli bedah. Banyak orang mengerti jika dengan tidak sengaja menyebabkan kerusakan sekecil apapun pada otak, maka konsekuensinya sangat besar.

Tetapi hal yang terlihat sebagai prestasi paling berani dalam pengobatan modern, anehnya adalah prosedur yang juga sudah dipergunakan dalam sejarah kuno. Pembedahan - suatu praktek membuka atau membuat lubang pada tengkorak - ini adalah praktek yang sudah dilakukan orang-orang di seluruh dunia selama ribuan tahun.

Tengkorak-tengkorak yang pernah dibedah telah ditemukan di beberapa daerah berbeda di dunia, termasuk dalam 'Dunia Baru' sisa dari kultur pra-Colombia, dimulai dari penemuan spesimen Peru pada 1863.

Contoh lain adalah penemuan tengkorak dengan bekas bedah ganda berumur 5000 tahun di Prancis dari periode Neolithic (Jaman Batu Baru). Bukti keberhasilan bedah tengkorak ini sangat jelas dan individu itu terus hidup setelah menjalani operasi kronis tersebut.

Melihat sejarah yang lebih tua, lebih banyak bukti praktek pembedahan juga ditemukan dari periode Mesolithic (Jaman Batu Pertengahan), antara 10.000 dan 5.000 tahun lampau. Tengkorak bekas bedah yang paling tua ditemukan di Ukraina pada 1966, dan tengkorak itu berumur 8.020 dan 7.620 tahun - yaitu dari jaman ketika kebanyakan ahli arkeologi percaya bahwa manusia baru saja pindah dari tinggal di gua ke rumah.

Lebih dari sekedar pengobatan

Yang pasti, dari tingkat kesulitan prosedur itu bisa disimpulkan suatu derajat ke-trampilan medis yang tinggi, meskipun sebagian ahli antropologi juga menghubungkannya dengan ritual mistik, dilihat dari banyaknya bekas tengkorak bekas bedah yang ditemukan di beberapa tempat. Di Baumes-Chaudes, Prancis, dari 350 tengkorak diperiksa, ditemukan 60 tengkorak yang bekas bedah.

Dengan jumlah tengkorak bekas bedah yang cukup besar, sebagian orang berpikir bahwa ini adalah suatu 'kehormatan' yang diberikan kepada segmen populasi tertentu. Contohnya para Firaun dari Mesir, mereka akan menjalani bedah tengkorak beberapa kali dalam hidup karena suatu kepercayaan agar jiwa mereka akan lebih mudah untuk meninggalkan tubuh-tubuh mereka setelah kematian.

Dewasa ini, para dokter medis menempuh metode yang sulit ini hanya untuk mengurangi tekanan dari tengkorak pasien dan mengeringkan pendarahan, selain itu biasanya tidak ditempuh metode itu mengingat resikonya yang tinggi. Bagaimanapun juga yang berpendapat orang kuno punya pertimbangan selain dari keperluan medis untuk membuka kepala.

Sementara ada beberapa orang menganggap nenek moyang kita menggunakan pembedahan untuk menyembuhkan penyakit mental - bertujuan untuk membebaskan otak pasien dari siksaan hantu dan roh yang merasuk - peneliti lainnya mengatakan pembedahan tengkorak masa lampau adalah suatu cara untuk menawarkan pengalaman spiritual yang sangat menggembirakan. Kepercayaan semacam itu masih berlaku hingga sekarang.

Pada tahun 1962, Orang Belanda Bart Hughes menerbitkan Mechanism of Brainblood volume, mengatakan bahwa dengan melubangi tengkorak, volume otak darah meningkat. Dengan demikian, Hughes percaya individu yang melakukan hal ini dapat meningkatkan kesadaran mereka, dengan suatu kesadaran lebih tinggi mendekati kesadaran seorang anak dengan 'soft spot'nya.

Dengan berdiri diatas kepala atau mengonsumsi tumbuh-tumbuhan yang dapat meningkatkan aliran darah ke otak, kondisi yang serupa dapat dicapai untuk sementara. Tetapi Hughes lebih tertarik dengan kondisi yang lebih permanen dibanding hanya dengan tumbuh-tumbuhan, karena itu dia melakukan prosedur ini pada dirinya sendiri pada 1965.

Beberapa orang juga mengikuti langkah Hughes; contohnya seniman Amanda Feilding yang merekam proses bedahnya sendiri di dalam suatu dokumen berjudul Heartbeat in the Brain.

Peralatan bedah

Dalam beberapa praktek medis kuno, jika suatu pasien menderita sakit kepala karena tumor, dokter akan menggunakan alat untuk mengetuk bagian-bagian kepala tertentu. Ketika orang itu mengeluh kesakitan, praktisi medis akan merasa yakin bahwa tumor telah ditemukan.

Kemudian operasi itu dilaksanakan memberi pasien anestetik primitif. Spesialis akan memotong kulit kepala lalu meretakkan tulang dengan alat bedah sederhana dan berhati-hati agar tidak membuat kerusakan pada otak pasien.

Bagaimana mereka memotong dan mengambil bagian tulang adalah suatu misteri, karena tengkorak terbukti tidak gampang dilubangi.

Begitu operasi selesai dilakukan (mungkin di bawah kondisi sangat steril), lapisan kulit lembut akan dijahit kembali. Sepanjang tidak ada implan modern, bagian tengkorak yang retak tidak bisa disisipkan kembali, dan akhirnya kulit baru akan tumbuh di atas lubang.

Inca kuno mempunyai pisau yang disebut tumi untuk melakukan prosedur pembedahan. Bentuk tumi yang sekarang banyak digunakan sebagai lencana itu, diadopsi dari Akademi Pembedahan Peru, memegang peranan yang tinggi sebagai satu bagian penting dari kebudayaan Inca kuno, dan digunakan secara ekstensif untuk mempromosikan turisme di Peru.

Fitur mata pisau yang sukar dimengerti oleh seorang manusia dengan satu hiasan kepala yang rumit, berdiri di puncak menyerupai suatu pisau berbentuk sekop. Obyek sakral ini mempunyai suatu sejarah bahwa bahkan mendahului peradaban Inca. Pada 2006, 12 tumi ditemukan dalam satu kompleks pemakaman pra-Inca kuno di Peru.

Hippocrates mengusulkan pembedahan tengkorak bagi luka-luka di kepala, dan Yunani kuno mempunyai beberapa peralatan untuk melaksanakan prosedur tersebut. Salah satunya adalah terebra berbentuk 't ', yang cara kerjanya hampir menyerupai alat bor primitif.

Sementara peradaban Mesir kuno dapat bangga dengan peralatan medisnya yang relatif maju. Para peneliti percaya bahwa mereka melakukan pembedahan otak dengan sebuah palu dan pahat.

Sebuah fakta yang menarik untuk dicatat dalam prosedur peradaban Mesir kuno adalah terdapatnya seorang yang berfungsi sebagai 'hemostatic' (agen yang berfungsi untuk menghentikan pendarahan). Pengobatan spesialis kuno ini memiliki kekuatan yang diduga dapat menghentikan pendarahan dengan menghadirkannya di dalam ruang operasi.

Bedah medis ini telah berkembang lebih dari 10.000 tahun, jauh melampaui prosedur pengobatan standar modern. Akan tetapi sebagian besar komunitas medis dengan tegas mengeluarkan larangan terhadap keinginan kuat pembedahan yang dianggap tidak perlu, dikarenakan dapat terjadi beberapa resiko kematian.

Meskipun euphoria tuntutan pembedahan jaman sekarang mendukung permintaan tegas atas hasil penembusan tengkorak, banyak profesional medis memperhitungkan bahwa manfaat yang telah diperhitungkan tidak mungkin terjadi dan memiliki resiko yang tak berarti.

Jadi bagaimanakah asal mula pembedahan medis dan siapakah dokter bedah pertama? Apakah begitu banyak orang jaman kuno benar-benar mencari cara pengobatan untuk meredakan sakit kepala yang hebat, atau apakah susunan spesimen penting yang ditemukan di seluruh dunia tersebut mengatakan bahwa nenek moyang kita memiliki motivasi lain untuk dapat melalui resiko operasi tersebut?


Terapi Kanker Dalam Ilmu Kedokteran China







Artemisia annua – tanaman obat di China yang sudah digunakan sejak ribuan tahun. (INTERNET)
Sebuah obat rakyat terkenal dari China mungkin bisa menjadi solusi terapi kanker di masa depan. Obat-obat kanker saat ini menggunakan jalan memakai racun sel yang kuat untuk membunuh semua sel-sel tubuh secara lambat.

Memang dengan dosis yang optimal sel-sel kanker dapat dihancurkan, tetapi bersamaan itu menyebabkan kerusakan terhadap sel-sel tubuh dan sejumlah sel tubuh akan mati bersama dengan sel-sel kanker. Obat China ini bisa membedakan antara sel-sel tubuh yang sehat dari sel kanker yang berpenyakit dan hanya menyerang sel-sel yang sakit.

Terapi kemo pengobatan kanker kaya dengan efek samping

“Kelelahan, lesu, ogah-ogahan dan apatis”, hampir setiap pasien tidak akan gembira meskipun sudah menyelesaikan terapi awal yang merupakan salah satu dari siklus terapi kemo. Setelah berhasil bertahan terhadap pukulan diagnosa yang pertama, tiga terapi selanjutnya telah menunggu.

Pilihannya tidak menguntungkan, bila dipikirkan, contohnya, jaringan yang disinari sering kali meninggalkan bekas luka yang parah dan infeksi yang demikian rupa sehingga setelah itu hampir tidak ada dokter bedah yang berani mengoperasi pasien dengan pisau operasi. Selain itu, terapi kemo memiliki banyak efek samping seperti rambut rontok, selaput lendir terasa terbakar atau rasa mual. Ini semua adalah tantangan-tantangan yang tidak menyenangkan bagi pasien. Yang menghibur dalam hal ini, bila dilihat secara objektif, sekitar satu dari tiga pasien kanker berhasil menjalani jalan ini dan terobati dari penyakit kankernya.

Sementara itu penemuan ilmiah terbaru telah menghidupkan harapan, dengan menemukan obat kanker untuk menumpas sel-sel kanker yang sakit secara terarah, tanpa merusak sel-sel tubuh yang sehat. Dalam “Journal of Biological Chemistry“ disebutkan, pada 2009 Prof. Firestone untuk pertama kalinya memberitakan hasil-hasil penelitian baru. Hasil penelitian ini mengungkapan mekanisme molekular dari tanaman artemisia vulgaris dari Asia timur yang dapat memerangi senyawa kanker dengan efektif.

Sekelompok zat-zat anti kanker yang efektif dari bidang kedokteran di China kuno sedang diteliti kembali, sekarang menjadi titik fokus dari penelitian obat dan akan dikembangkan lebih lanjut untuk digunakan sebagai obat. Dua ilmuwan dari universitas Washington telah menemukan pengobatan potensi untuk melawan kanker dari obat rakyat manjur dari tradisi China kuno.

Perusahaan China Chongqing Holley Holdings dan anak cabangnya di AS menandatangani perjanjian kerjasama dalam bidang penelitian zat. “Kami sangat antusias dalam penemuan ini dan gembira dengan kemungkinan untuk mengembangkan sebuat obat anti kanker yang berbasis Artemisinin,“ kata Kevin ketua penelitian ilmiah di Holley. “Teknologi ini tampaknya sangat menjanjikan, tetapi masih pada tahap awal. Masih memerlukan proyek-proyek penelitian dan uji klinis lebih lanjut.” Perusahaan yang berkedudukan di Chongqing, China ini telah eksis selama tiga puluh tahun dengan penelitian tanaman Artemisinin dan merupakan pelopor di bidang penanaman, panen dan produksi dari hasil-hasil Artemesia, juga sehubungan dengan obat anti malaria yang berbasis Artemisinin, kata pihak yang berwewenang.

Potensi untuk melawan sel kanker secara terarah

Prof. Henry Lai dan Prof. Narendra Singh menemukan hasil dalam penelitian akan kegunaan zat-zat sampingan (derivat) dari Artemesia untuk melawan kanker payudara. Hasil penemuan ini menghasilkan kegunaan dari Artemisinin yang menakjubkan. Sebuah studi dalam jurnal Life Sciences tertulis tentang bagaimana derivatnya Artemesia membunuh semua sel-sel kanker payudara dalam waktu 16 jam di bawah kondisi laboratorium. Tidak hanya bahwa zat tersebut nampaknya sangat efektif, tetapi sangat selektif terhadap sel-sel kanker itu, kata Profesor Lai.

Tanaman obat kuno ditemukan baru untuk pengobatan kanker

Artimisia annua adalah tanaman obat legendaris pengobatan China, yang sekarang terutama digunakan untuk melawan malaria dan penyakit infeksi. Obat malaria yang sudah lama terkenal ini juga sangat efektif untuk pengobatan kanker. Di bawah kondisi laboratorium, zat ini menunjukan bahwa ia bisa membunuh sel-sel kanker dengan efektif.

Keunggulan zat ini yaitu pada saat percobaan diketahui bahwa zat tidak menyerang sel-sel kanker payudara yang sehat di sekitarnya. Obat-obat terapi kemo yang banyak digunakan sekarang mempunyai kelemahan serius, yaitu sangat beracun bagi sel-sel tubuh yang sehat dan dengan itu bisa menimbulkan efek samping yang serius.

Tetapi bagaimana zat tersebut bisa berhasil memilih sel-sel yang sakit dan menghancurkan sel-sel kanker ini? Profesor Henry Lai dari Universitas Washington, AS, menceritakan bagaimana penemuan obat ini, “Sel-sel kanker memerlukan banyak zat besi untuk memperbanyak DNA, bila mereka berkembang biak,” tutur Profesor Lai. Ini artinya bahwa sel-sel kanker harus diberikan konsentrasi besi yang lebih tinggi dari pada sel-sel normal. Ketika kami mulai mengerti mekanisme aksi dari Artimisinin, kami mulai bertanya-tanya, apakah kami tidak bisa menggunakan pengetahuan ini untuk menerapkan efek dari Artimisinin terhadap sel-sel kanker.“

Menyerang sel-sel dengan konsentrasi besi tinggi

Dari penelitian malaria telah diketahui bahwa konsentrasi besi tinggi juga ditemukan pada parasit-parasit malaria. Bila Artimisinin bersentuhan dengan besi, terjadi suatu reaksi kimia berantai, di mana banyak partikel-partikel kecil yang bermuatan terbentuk dan dinamakan radikal-radikal bebas oleh kimiawan. Radikal-radikal bebas ini memiliki keistimewaan yang mirip seperti asam klorida atau zat-zat agresif lainnya, yaitu menyerang molekul-molekul sekitarnya dan menghancurkan mereka. Demikian juga radikal-radikal bebas ini menyerang membran sel di parasit-parasit malaria dan membuat lubang-lubang di dalamnya, di mana dengan cara ini parasit-parasit malaria tersebut terbunuh.

Profesor Lai telah mendaftarkan paten dan mencari sponsor ide meningkatkan konsentrasi besi pada sel-sel kanker secara buatan. Profesor Lai ingin “memompa“ sel-sel kanker itu dengan zat besi dan menyusupkan Artimisinin ke dalam sel-sel secara terarah dan dengan ini mereka terbunuh.

Untuk mengambil lebih banyak zat besi, sel-sel kanker memiliki kepadatan reseptor lebih tinggi untuk protein transport besi, transferin. Reseptor-reseptor ini menangkap protein zat besi dari darah dan mengangkutnya ke dalam sel. Para peneliti menemukan kepadatan reseptor yang 15 kali lebih tinggi untuk protein transport besi trasferin, juga pada sel-sel kanker payudara yang diteliti.

Dengan kuda Trojan masuk ke dalam sel-sel kanker

Profesor Lai menerangkan, “Kami menamakan obat ini sebagai kuda Trojan, karena sel-sel kanker mengenali transferin sebagai protein alami yang tidak berbahaya dan menerima persatuan dari transferin dan artimisinin, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya di dalam transferin ini adalah bom untuknya – yaitu artimisinin ini. “Bila per-satuan ini sekali ada di dalam sel, zat besi bereaksi dengan artimisinin yang disusupkan dan merusak sel-sel itu. Dengan ini campuran antara transferin dan Artimisini adalah sangat beracun untuk sel-sel kan-ker dan bersamaan sangat selektif, karena sel-sel kanker membutuhkan zat besi yang sangat banyak. Sel-sel yang ada di sekitarnya tidak ikut rusak.

“Yang menarik pada zat ini, orang Tionghoa telah menggunakan zat ini sejak ribuan tahun,” ujar Profesor Lai. “Kami hanya menggunakannya di bidang lain.”

Hasil penyembuhan berkaitan erat dengan pasien

Selain itu, tanaman obat ini berasal dari repertoar jamu kuno China. Dalam pengobatan China kuno, hasil-hasil penyembuhan berkaitan erat dengan filosofi dan sikap melalui ajaran-ajaran China kuno dari pengobatan tradisional. Bila seseorang sekarang mencoba menggunakan resep-resep dari ilmu penyembuhan kuno ini, tanpa mengindahkan inti kejiwaannya, maka hasil-hasil penyembuhannya tidak bisa disamakan dengan hasil-hasil dari dokter-dokter China kuno.

Para dokter legendaris China seperti Hua Tuo, Bian Que atau Li Shizhen menilai seorang pasien tidak hanya berdasarkan penyakitnya. Sebaliknya mereka memperhatikan segenap pribadi orangnya dengan karakter, kebajikan dan sikap pada keseluruhan pengobatan mereka. Misalnya, bila seseorang dalam hidupnya selalu berjuang demi karir dan keuntungan pribadi, maka ia akan menjadi orang yang selalu sehat dan melihat penyakit sebagai noda, sebagai ketidakadilan dalam hidup. Menurut ajaran dari pengobatan China, orang seperti itu sulit disembuhkan.

Begitulah nampaknya hasil-hasil penyembuhan pada pasien perorangan yang juga berkaitan dengan gaya hidup dan sikapnya. Bila persoalannya mengembangkan obat kanker yang bisa menyembuhkan semua pasien dengan tidak tergantung dari karakter dan sejarah hidup mereka, bisakah segera ditemukan “senjata ajaib“ untuk setiap pasien dan untuk melawan segala jenis kanker, yang mungkin akan menunda penelitian kanker untuk di kemudian hari. Bahkan di ilmu kedokteran Barat hampir tidak ditemukan seorang Profesor yang percaya akan hal tersebut dari pengalaman pribadinya.

Kotak info: Penemuan kembali sebuah tanaman obat kuno

Penggunaan zat Artemisinin bukanlah barang baru. Sejak zaman kuno sudah ribuan tahun lamanya tanaman Artemesia digunakan untuk melawan sejumlah keluhan di China. Catatan tentang Artemesia sebagai obat sudah ada sejak dinasti Han pada abad ke dua sebelum masehi. Baru pada era 70-an ditemukan obat malaria di pengobatan barat. Pada zaman China kuno, Artemisinin menunjukkan efek yang begitu kuat terhadap malaria yang dulunya belum pernah diamati. (Peter Sanftmann/The Epoch Times/hq)

Metode Amputasi Eksis pada Jaman Batu







Amputasi Jaman Batu: Sejumlah ilmuwan menemukan bukti kecanggihan amputasi pada jaman batu dalam kerangka ini. (Courtesy of Antiquity Journal)

Dokter-dokter pada Jaman Batu terbukti lebih maju dibandingkan bayangan kita sebelumnya.

Dengan ditemukannya bukti baru operasi pembedahan yang dilakukan sekitar 7.000 tahun lalu, kini kemajuan ilmu kedokteran Jaman Batu menjadi semakin jelas.

Temuan ini juga memperjelas kemajuan pengetahuan medis pada 4.900 SM, dengan ditemukannya sejarah pembedahan dan perkembangannya.

Pada situs Neolitik yang digali pada 2005 lalu, di Buthiers-Boulancourt, 40 mil selatan Paris, para ilmuwan menemukan sebuah kerangka orang tua 7.000 tahun. Beberapa pengujian menunjukkan bahwa ia pernah menjalani amputasi dengan menggunakan batu tajam untuk memotong tulang humerus diatas tekukan trochlea.

Sangat mengesankan, pasien bahkan dibius. Anggota badan yang dipotong terlihat bersih dan luka dirawat dalam kondisi steril. Bedah tengkorak adalah hal biasa yang dilakukan para dokter Jaman Batu. Namun tentang amputasi belum pernah terdengar hingga saat ini.

Menurut sebuah makalah penelitian yang diterbitkan Antiquity Journal, pemeriksaan makroskopik menunjukkan tidak terjadi infeksi setiap kali dilakukan amputasi. Hal ini sebagai pertanda apa yang telah dilakukan dalam kondisi relatif steril.

Para ilmuwan menemukan bahwa pasien ini selamat setelah menjalani operasi, meskipun ia menderita akibat osteoarthritis. Namun pasien dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sesudahnya.

Menurut Daily Mail, peneliti Cécile Buquet-Marcon, mengatakan bahwa tanaman yang kemungkinan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit adalah Datura, dan tanaman lain seperti Sage kemungkinan digunakan untuk membersihkan luka.

Hilangnya lengan bawah pasien ini bukan karena ia dikucilkan dari masyarakat. Kuburannya berukuran lebih dari 6,5 kaki dan berisi sebuah kapak batu tulis, batu api dan seekor hewan muda, yang mengindikasikan orang ini dari tingkat sosial tinggi. (EpochTimes/ sua)


Pengobatan Tradisional China







Memeriksa denyut nadi adalah teknik diagnosis yang biasa digunakan dalam Pengobatan Tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM). (SCREENSHOT)Suatu seni penyembuhan yang telah dikenal lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Pengobatan Tradisional China (TCM) dan sejarah makanan di China sangat erat kaitannya. Secara tradisional, masyarakat China menghubungkan konsumsi makanan tertentu untuk fungsi tubuh tertentu. Budaya dan filosofi China menyatakan bahwa fungsi tubuh, makanan yang dikonsumsi seseorang, dan bagaimana penyakit diobati berkaitan erat dengan lingkungan seseorang.

Seorang tabib yang mempraktekkan TCM mencari tanda-tanda ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan dalam lingkungan internal dan eksternal pasien untuk memahami, merawat, dan diharapkan dapat mencegah penyakit. Bentuk pelayanan kesehatan ini telah berkembang selama ribuan tahun, berakar kuat pada sistem kepercayaan kuno, termasuk konsep-konsep spiritual tradisional.

Filosofi pengobatan semacam itu berdasarkan teori Yin dan Yang, lima elemen, delapan prinsip, teori Zang Fu (teori yang menguraikan tentang fungsi fisiologis dan perubahan patologis dari organ dalam dengan fokus utama pada fungsi fisiologis organ dan jaringan somatik), dan sistem meridian tubuh.

Seorang praktisi TCM yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan herbal, terapi makanan, akupunktur, moxibustion (memanaskan moxa –substansi berbulu halus yang diperoleh dari daun kering– di dekat lokasi atau di titik tertentu sebagai kontra iritant), cupping atau kop (melancarkan darah dengan memanaskan gelas kaca atau gelas plastik yang diletakkan di titik-titik tertentu –umumnya di punggung– hingga mendapatkan tekanan hampa udara), atau chiropractic (pengobatan yang menitikberatkan pada diagnosis, perawatan dan pencegahan penyimpangan mekanisme terutama pada tulang belakang) mungkin dapat menggunakan satu, atau sebagian, atau bahkan semua metode perawatan agar sembuh.

Pada kasus saya sendiri, penggunaan campuran herbal China selama perjalanan ke luar negeri dapat menyembuhkan batuk yang membandel – dan tidak kambuh lagi selama hampir sepuluh tahun! Antibiotik, obat yang diresepkan dokter Barat, tidak dapat melakukan apa pun untuk menyingkirkan batuk saya.

Hingga saat ini praktek TCM masih menjadi andalan sistem pengobatan masyarakat China, bersama dengan praktek kedokteran modern Barat. Sebelum abad ke-19, dokter China dan Barat sama sekali tidak mengetahui tentang bakteri penyebab infeksi.

Praktisi medis Barat dan China kemudian bergantung terutama pada pengamatan dan pengalaman untuk melawan invasi bakteri yang berbahaya; pemahaman tentang “teori kuman” baru dimungkinkan setelah abad ke-20. Di abad ke-21, ahli TCM telah mencapai hasil yang terpercaya dalam memerangi efek kemoterapi pada pasien kanker, pecandu narkoba, dan pengobatan kondisi kronis, seperti diabetes dan penyakit ginjal tertentu serta memberantas malaria dengan tanaman Artemisia.

Praktisi TCM terus menempa keahlian mereka, dalam hubungannya dengan praktek kedokteran Barat. Wacana ini dipublikasikan dalam laporan Victoria / Australia yang menyatakan, “Lulusan TCM mampu mendiagnosis penyakit dalam istilah kedokteran Barat, meresepkan obat-obatan Barat, dan melakukan prosedur pembedahan kecil. Akibatnya, mereka membuka praktek TCM sebagai suatu keahlian dalam spektrum pengobatan kesehatan China dengan kerangka yang lebih luas.” (http://www.health.vic.gov.au/archive 2006) Namun, prinsip dasar seni penyembuhan ini didasarkan pada beberapa aliran filsafat.

TCM berakar pada Taoisme, Buddha, dan Neo-Konfusianisme. Pelajar China dari segala macam bidang selama 3.000 tahun terakhir (dari 1200 SM sampai sekarang) telah fokus pada hukum alam semesta yang nampak dan bagaimana mereka mengimplikasikan posisi manusia dalam alam semesta. Sastra klasik China seperti I Ching dan Spiritual Tao, dan beberapa sastra lain, menghubungkan prinsip-prinsip alam semesta dengan kesehatan dan penyembuhan.

Salah satu pertimbangan utama adalah: manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan alam semesta; keseimbangan dan kesehatan yang optimal merupakan hasil dari interaksi harmonis antara kejadian alam semesta dan perubahan selanjutnya, segala sesuatu di alam semesta ini pada akhirnya saling berhubungan. Mengingat hal tersebut, tidak perlu susah payah membayangkan jika tubuh manusia merupakan perwujudan dari alam semesta kecil, dengan satu sistem interkoneksi yang utuh, lengkap, dan canggih. Dengan demikian, ahli TCM akan selalu menggunakan pendekatan holistik dan cermat untuk menghindari kerugian pasien.

Perusahaan farmasi Barat mulai mengakui nilai TCM dan merekrut tim ilmuwan untuk melakukan studi double blind (suatu studi dimana peneliti maupun objek penelitian sama-sama tidak mengetahui obat mana yang digunakan) yang mahal di beberapa belahan dunia untuk mengumpulkan beragam jenis tumbuhan obat dan pengetahuan dari praktisi tradisional China. Perusahaan farmasi sangat menyadari bahwa senyawa yang paling banyak digunakan dalam pengobatan modern berasal dari tanaman, atau dalam beberapa kasus, berasal dari binatang.

Di China modern, kepercayaan terhadap TCM sangat kuat, meskipun seseorang lebih menyukai berkonsultasi dengan dokter Barat jika patah kaki atau usus buntu pecah, namun kemudian dilanjutkan dengan latihan China tradisional untuk meningkatkan kesehatan, meminum ramuan tradisional China, dan mengonsumsi makanan China yang tepat untuk tetap sehat setelah krisis telah berlalu.

Hal ini juga perlu diperhatikan bahwa setidaknya di kota-kota besar di China, seorang praktisi TCM modern akan merujuk pasiennya ke fasilitas medis Barat jika sistem pasien terlalu “tidak seimbang” untuk diobati melalui pengobatan tradisional China. Namun hal ini tidak dapat menghalangi saya mengutip beberapa peribahasa China, “Sebuah obat populer yang belum dicoba sering membuat histeris dokter ilmiah. Dokter yang tidak perhatian tidak lebih baik dari seorang pembunuh. Dokter tingkat rendah merawat penyakit yang sudah timbul, dokter tingkat medium merawat penyakit yang akan datang, sedang dokter yang unggul dapat mencegah datangnya penyakit.”

Seharusnya kita merasa beruntung memiliki dokter yang unggul dalam hal pencegahan penyakit daripada mengobati setelah menderita penyakit. (Secret China/feb)