Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Trompet berumur 3.000 tahun dibunyikan kembali

Alat musik berupa trompet dari cangkang kerang, yang ditemukan di sebuah situs religi sebelum masa Inca di Peru, dibunyikan kembali.

Trompet tersebut menghasilkan suara mendengung yang menakutkan. Berdasarkan analisis, yang diterbitkan pada tanggal 17 November di Second Pan-American/Iberian Meeting on Acoustics di Cancun, Meksiko, trompet tersebut digunakan dalam upacara keagamaan. "Terasa di dada kalau tekstur suaranya kasar, seperti raungan hewan," kata Jonathan Abel, ahli akustik dari Center for Computer Research in Music & Acoustic di Stanford University, Amerika Serikat.

Para arkeolog mengangkat 20 trompet yang terbuat dari cangkang kerang Strombus galeatus di Chavin de Huantar, pusat upacara kuno di Andes. Cangkang-cangkang itu dikilapkan, dicat, dan diukir dengan berbagai simbol. Trompet itu memiliki lubang untuk ditiup dan celah berbentuk huruf "V". Perry Cook, ahli komputer dari Princeton Unversity, yang juga terlibat dalam studi, menyebutkan, "Celah itu mungkin untuk menaruh jempol musisi."

Para ilmuwan merekam musik yang dihasilkan dengan cara menempatkan mikrofon di dalam mulut pemain dan di trompet. Di trompet, mikrofon ditempatkan pada tempat meniup, di ruang dalam tropmet, dan di lubang pada trompet. Suara yang dihasilkan hanya 1 atau 2 nada, tapi tinggi nana berubah ketika pemain meletakkan tangan di atas lubang.

Ilmuwan juga ingin mengetahui efek tempat upacara kuno berlangsung terhadap suara trompet. Tempat upacara pada saat dahulu merupakan labirin dari batu dengan koridor yang berliku tajam serta memiliki lubang-lubang ventilasi. Para ilmuwan mendapati kalau suara trompet seolah datang dari berbagai arah. Menurut ilmuwan, pada kondisi ruangan redup, suara itu bisa bikin bingung. "Jangan-jangan, ini adalah upaya untuk membuat orang-orang jadi takut," terka Abel.

Berdasarkan temuan itu, para ilmuwan ingin mengetahui efek suara terhadap psikologi. Saat ini, studi psikoakustik itu sedang berjalan pada penelitian yang berbeda. Studi tersebut mempelajari efeknya pada manusia pada umumnya, bukan hanya pada peradaban kuno. "Suara yang didengar telinga bisa memengaruhi sikap atau menghadirkan suatu pengalaman psikologi pada kondisi tertentu," kata Abel.

Suara alat musik itu bisa didengarkan di sini.

Sumber: Discovery News

Rabu, 01 Desember 2010

Kisah Terkini tentang Burung-Dino dan Fakta Sesungguhnya

Beberapa waktu yang lalu media massa dunia memuat penemuan baru-baru ini tentang sekumpulan fosil di Cina sebagai bukti yang mendukung teori evolusi. Beijing's Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology mengeluarkan pernyataan bahwa satu dari keenam fosil dalam kelompok tersebut adalah milik seekor "burung-dino bersayap empat" dan bahwa makhluk punah ini dapat terbang, atau setidaknya, bergelantungan di pepohonan. Media masa pendukung Darwinisme sekali lagi melakukan propagandanya habis-habisan meskipun teori ini sama sekali dan telah berulang kali dibuktikan keliru.

Nyatanya, sama sekali tidak terdapat bukti yang mendukung propaganda mereka. Sebab, tidak ada "burung-dino bersayap empat" (makhluk separuh burung separuh dinosaurus) atau data ilmiah apa pun yang mendukung teori evolusi burung dari dinosaurus.

Fosil baru: 20 juta tahun lebih muda dari Archaeopteryx

Hampir setiap orang yang tahu sedikit tentang paleontologi pernah mendengar Archaeopteryx. Penemuan Archaeopteryx termasuk yang paling terkenal. Makhluk ini adalah seekor burung yang hidup sekitar 150 juta tahun lalu. Archaeopteryx sangatlah penting karena termasuk burung tertua yang hingga kini pernah ditemukan. Tak seorang ilmuwan pun pernah menemukan fosil burung yang berusia lebih tua dari Archaeopteryx. 1

Hal penting lain tentang Archaeopteryx adalah ia tergolong seekor burung sejati, dengan semua ciri burung yang dimilikinya. Bulu-bulunya yang asimetris sama dengan burung-burung masa kini, termasuk bentuk sayapnya yang sempurna, rangka yang ringan dan berongga, tulang dada yang menyangga otot terbang, serta banyak ciri lainnya yang meyakinkan para ilmuwan bahwa Archaeopteryx adalah seekor burung sejati yang mampu terbang sempurna.2

Akan tetapi, dua ciri Archaeopteryx yang sangat membedakannya dari burung modern adalah sayapnya yang memiliki cakar, dan gigi pada paruhnya. Karena dua ciri inilah sejak abad kesembilan belas para evolusionis berupaya menampilkan burung ini sebagai "semi reptilia". Namun ciri-ciri ini sesungguhnya bukanlah bukti yang menunjukkan kaitan antara Archaeopteryx dan reptilia. Penelitian menunjukkan bahwa Hoatzin, spesies burung yang hingga kini masih hidup, juga memiliki cakar pada sayapnya ketika masih muda. Archaeopteryx bukan pula satu-satunya "burung bergigi", sebab spesies burung lainnya di masa lalu yang ada dalam catatan fosil juga memiliki gigi. 3

Jadi, sebagaimana dapat kita pahami, penjelasan para evolusionis bahwa Archaeopteryx adalah sejenis "burung primitif" sungguh keliru, dan para ilmuwan telah menerima bahwa makhluk ini terlihat sangat menyerupai burung masa kini. Profesor ahli ahli burung terkemuka di dunia asal Kansas University, Alan Feduccia, menyatakan, "Kebanyakan mereka yang baru-baru ini mempelajari sifat-sifat anatomis Archaeopteryx, mendapati makhluk tersebut lebih banyak menyerupai burung daripada yang pernah mereka sangka sebelumnya,". Propaganda para pendukung Darwinisme telah keliru, dan Feduccia juga telah menyatakan bahwa, hingga baru-baru ini, "kemiripan Archaeopteryx dengan dinosaurus theropoda terlalu dibesar-besarkan." 4

Singkatnya, Archaeopteryx adalah burung tertua yang memiliki ciri-ciri yang sama seperti pada burung-burung modern, termasuk dalam hal kemampuan terbangnya. Selain itu, Archaeopteryx berusia sekitar 150 juta tahun.


Permasalahan seputar usia fosil

Archaeopteryx memperlihatkan satu fakta kunci: Burung telah ada sejak 150 juta tahun lalu. Mereka telah mampu terbang. Jika para evolusionis ingin mengemukakan sejumlah "nenek moyang burung," maka makhluk-makhluk ini haruslah telah hidup sebelum 150 juta tahun lalu.

Satu fakta ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pernyataan tentang "burung-dino bersayap empat" yang disebarluaskan ke seluruh dunia sangat tidak berdasar dan tidak benar. Sebab, fosil yang diketemukan di Cina dan dinamakan Microraptor gui ini – yang oleh para evolusionis dicobatampilkan sebagai "nenek moyang burung-burung primitif" – hanyalah berusia 130 juta tahun, dengan kata lain 20 juta tahun lebih mudah sama sekali dari burung yang diketahui paling tua. Jelas, sama sekali tidak masuk akal untuk menampilkan seekor burung "sebagai nenek moyang burung-burung primitif" ketika terdapat sejumlah burung yang telah terbang 20 juta tahun sebelum makhluk ini ada.

Sesungguhnya "permasalahan usia" ini ada pada semua fosil "burung-dino" yang diyakini sebagai nenek moyang burung. Para evolusionis yang percaya bahwa burung berasal dari dinosaurus menyatakan bahwa nenek moyang burung adalah dinosaurus theropoda yang berjalan di atas dua kaki. Akan tetapi dinosaurus theropoda muncul setelah Archaeopteryx dalam catatan fosil.5 Para evolusionis selalu berupaya menutupi kejanggalan yang nyata ini. Usaha yang sama untuk menyembunyikan fakta ini mudah sekali dilihat pada laporan berita tentang fosil Microraptor gui. Seluruh surat kabar dan majalah evolusionis mengumumkan secara luas bahwa fosil ini adalah "seekor burung primitif" berusia 130 juta tahun, tanpa merasa perlu menyebutkan bahwa Archaeopteryx dapat melayang di udara dengan sempurna sekitar 20 juta tahun sebelumnya.

Microraptor gui


Microraptor

Jadi, apakah makhluk yang dinamakan "dinosaurus bersayap empat" ini, dengan kata lain Microraptor gui?

Terlalu dini untuk menjawab pertanyaan ini. Banyak penelitian masih perlu dilakukan pada fosil ini, dan hasilnya mungkin secara mendasar akan merubah pandangan kini tentang fosil tersebut. Sama halnya, semua fosil "burung-dino" yang dikemukakan sejak awal tahun 1990-an semuanya diragukan keabsahannya. Salah satu dari "dinosaurus berbulu" tersebut, yakni Archaeoraptor, adalah fosil yang dipalsukan. Pengkajian mendalam pada fosil-fosil burung-dino lainnya menunjukkan bahwa "bulu-bulu" mereka ternyata serat-serat yang mengandung kolagen di bawah kulit.6 Dalam perkataan Profesor Feduccia, "Banyak dinosaurus telah ditampilkan sebagai makhluk yang tertutupi bulu-bulu yang berpola aerodinamis tanpa disertai bukti apa pun yang mendukungnya." 7 Dalam bukunya yang terbit tahun 1999, ia menulis, "Pada akhirnya, tak ada dinosaurus berbulu yang pernah ditemukan, meskipun banyak bangkai dinosaurus dengan kulit yang terawetkan dengan baik telah ditemukan di wilayah-wilayah yang beragam." 8

Begitulah, ketika mencari jawaban sesungguhnya tentang apa itu Microraptor gui, kita harus senantiasa ingat akan sikap para evolusionis yang penuh prasangka dan suka mereka-reka. Makhluk ini mungkin saja memiliki struktur anatomi yang sangat berbeda dengan gambar-gambar "rekonstruksi" yang muncul di media masa.

Hal ini juga telah ditengarai oleh Profesor Alan Feduccia. Dalam sebuah korespondensi baru-baru ini, ia menulis:

"Saya belum yakin bahwa makhluk tersebut bersayap empat; mungkin saja yang nampak oleh kita adalah bulu-bulu burung yang sebenarnya tidak pernah ada, dan ini sungguh sulit untuk ditafsirkan. Ciri-ciri yang menghubungkan hewan ini dengan dromaeosaurus juga sangat meragukan. Yang pasti, ekornya sangat berbeda dengan dromaeosaurus yang pernah diketahui, dan cakarnya tidak berbentuk melengkung, tapi hanya sedikit besar. Juga, bagian pubisnya lebih menyerupai burung. Mungkin kita tidak sedang menyaksikan dromaeosaurus yang dapat terbang, akan tetapi sisa-sisa dari unggas di masa awal… sekitar 20-30 juta tahun jauh sebelum Archaeopteryx." 9

Dan bahkan jika penafsiran tentang Microraptor gui terbukti benar, teori evolusi takkan mendapat pengukuhan apa pun dari hal ini. Sepanjang sejarah, puluhan juta spesies telah hidup dalam rentang spektrum biologis yang sangat lebar, dan banyak dari spesies ini telah punah seiring perjalanan masa. Sebagaimana mamalia terbang yang ada saat ini, seperti kelelawar, di zaman dahulu pun terdapat reptil-reptil bersayap (pterosaurus). Banyak beragam kelompok reptil laut (misalnya ichthyosaurus) hidup di masa lalu dan kemudian punah. Namun yang sungguh mengejutkan tentang spektrum yang lebar ini adalah hewan-hewan dengan ciri dan struktur anatomis berbeda muncul seketika dan dalam bentuk mereka yang telah lengkap sempurna, dan bukan sebagai turunan dari bentuk-bentuk nenek moyang yang lebih primitif. Misalnya, kita saksikan seluruh struktur kompleks burung muncul menjadi ada secara tiba-tiba pada Archaeopteryx. Tidak terdapat "burung-burung primitif" bersayap. Tidak ada "penerbangan primitif." Keyakinan tentang adanya paru-paru burung primitif juga sungguh tidak mungkin, sebab paru-paru unggas – yang sangat berbeda secara struktural dari paru-paru reptilia dan mamalia – memiliki struktur rumit yang tak tersederhanakan. 10

Singkatnya, catatan fosil terus saja memperlihatkan kesimpulan bahwa seluruh makhluk hidup muncul di bumi melalui penciptaan, dan bukan evolusi akibat pengaruh alamiah. Pernyataan terakhir tentang burung-dino ini takkan mampu merubah fakta yang ada.


1. Meskipun sebagian kalangan telah mengklaim bahwa fosil Protoavis berusia 225 juta tahun adalah "burung tertua", namun thesis ini tidak diterima secara luas.
2. Keterangan lebih lanjut, silahkan membaca buku karya Harun Yahya, Darwinism Refuted: How The Theory of Evolution Breaks Down in the Light of Modern Science, Goodword Books, 2003.
3. Misalnya, Liaoningornis berusia 130 juta tahun juga memiliki gigi pada paruhnya (Baca "Old Bird," Discover magazine, March 21, 1997)
4. Alan Feduccia, The Origin and Evolution of Birds, Yale University Press, 1999, hal. 81.
5. Jonathan Wells, Icons of Evolution, Regnery Publishing, 2000, hal. 117.
6. Ann Gibbons, "Plucking th e Feathered Dinosaur," Science, vol. 278, Number 5341 (Nov. 14, 1997), hal. 1,229-30
7. Feduccia (1999), hal. 130.
8. Feduccia (1999), hal. 132.
9. Petikan ini diambil dari korespondensi baru-baru ini antara editor situs kami dengan Prof. Feduccia. Kami sangat berterima kasih atas bantuannya.
10. Michael Denton, A Theory in Crisis, Adler & Adler, 1986, hal. 210-212

Senin, 22 November 2010

Peninggalan di Kota China Kuno Memperlihatkan Teknologi yang Tinggi







kota-kuno
Di Lingjiatan, Kabupaten Hanshan di Provinsi Anhui, China, para arkeolog telah menemukan situs peninggalan suku primitif yang pernah dihuni 5.000 tahun yang lalu. Teknologi pengeboran yang hebat dan kepingan bor batu tertua di dunia juga ditemukan dil okasi tersebut. Profesor bidang arkeologi, Zhang Jingguo mengatakan banyak misteri yang belum terpecahkan pada reruntuhan tersebut.

Reruntuhan yang terletak di Desa Lingjiatan, kota praja Tongzha di Kabupaten Hanshan, Kota Chaohu - Provinsi Anhui, luasnya meliputi areal sekitar 1,5 juta meter persegi. Para arkeolog mengatakan kota berusia 5.000 tahun tersebut mungkin adalah kota yang maju dan makmur dengan berbagai bangunan, peternakan hewan dan barang kerajinan yang telah maju. Penemuan sebelumnya kota tertua serupa di China yang telah diakui oleh para arkeolog terletak di Desa Dantu, Kabupaten Wulian, Kota Rizhao di Provinsi Shandong, yang dibangun lebih dari 4.000 tahun yang lalu.

Awal penemuan reruntuhan yang paling penting dari zaman Neolitikum adalah musim gugur tahun 1985. Seorang penduduk desa bernama Wan Chuancang saat menggali liang kubur menemukan cincin giok, kapak dan pahat batu.

Dari tahun 1987 hingga 2000, dari empat penggalian pada situs tersebut. Ditemukan lebih dari 1.200 peninggalan berharga termasuk sebuah altar, 66 kuburan, batu giok olahan, peralatan batu dan barang tembikar dari jaman Neolitikum. Di antaranya adalah giok naga tertua dan sekop batu terbesar yang pernah ditemukan di China. Hal ini mendukung teori yang mengatakan Lembah Danau Chaohu adalah tempat lahirnya kebudayaan China yang amat penting.

Teknologi Pengeboran yang Hebat

Reruntuhan Lingjiatan memiliki koleksi barang dari batu giok terbanyak. Untuk memeriksa koleksi tersebut digunakan stereomikroskop untuk meneliti teknologi perawatan giok pada waktu itu. Dengan pembesaran 50 kali, mereka menemukan lubang kecil di balik sebuah patung giok. Diameter lubang hanya 0,15 milimeter. Yang memerlukan mata bor dengan diameter sedikit lebih tebal dari sehelai rambut. 5.000 tahun yang lalu, sebelum logam dipergunakan sebagai peralatan, menunjukkan telah menggunakan teknologi maju.

Ditemukan juga alat bor yang terbuat dari batu berbentuk lebar di atas dan kecil di bawah dengan mata bor pada kedua ujungnya. Bor tersebut berbentuk sekrup, menunjukkan penduduk Lingjiatan telah mengenal kekuatan putaran dan daya sentrifugal, hal yang mengejutkan para arkeolog betapa canggihnya alat bor batu ini. Pengetahuan mereka tentang fisika, matematika, geometri, dan mekanika sepertinya cukup maju.

Para arkeolog juga menemukan peninggalan batu-batuan besar setinggi 10 meter di Lingjiatan dibangun lebih dari 1.000 tahun lebih awal daripada Stonehenge di Inggris. 5.000 tahun yang lalu, orang-orang di Lingjiatan seharusnya hanya menggunakan peralatan batu dan kayu; tidak jelas bagaimana mereka mampu memotong dan memindahkan batu-batuan besar dan berat seperti itu.

Legenda 8 Dewa : Lu Dong Bin







alt

Delapan Dewa Tao (Zhang Cuiying/The Epoch Times)

Legenda Delapan Dewa mungkin berawal pada Dinasti Tang, dan cerita itu bervariasi pada setiap dinasti. Para karakternya, menurut versi setelah Dinasti Ming, adalah Han Zhongli, Zhang Guolao, Han Xiangzi, Tie Guali, Cao Guojiu, Lu Dongbin, Lan Caihe, dan He Xianggu. Dengan memiliki penampilan dan kepribadian yang sangat berbeda, Delapan orang ini merupakan Dewa yang hebat dalam ajaran Tao, dan mereka sering berkumpul bersama.

Cao Guojiu adalah saudara seorang Kaisar, Tie Guali berkaki pincang dan berjalan dengan sebuah tongkat, He Xiangu seorang perempuan muda dan sangat menarik, Zhang Guolao terlihat sangat sehat di usianya yang lanjut dan sering menunggang keledai dengan terbalik. Han Xiangzi, keponakan dari Han Yu, seorang penulis terkenal di zaman Dinasti Tang dan sangat senang bermain seruling, Han Zhongli selalu terlihat dengan kipas daun palem di tangannya.

Melalui berbagai perjalanan mereka, Delapan Dewa bertemu dengan berbagai orang dan situasi, banyak di antaranya tertulis menjadi sebuah cerita. Satu perumpamaan keterlibatan Lu Dongbin yang menghalangi usaha untuk menawarkan penyelamatan manusia.

Lu Dongbin pernah dalam satu kali berjanji pada Han Zhongli untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Namun dia belum juga menyelamatkan satu orang pun, kemudian dia melakukan sebuah perjalanan menuju daerah Yue Yang. Dia berada di sana dua tiga kali sebelum mencoba untuk mencapai masyarakat umum. Yue Yang sekarang adalah sebuah wilayah administrasi di Provinsi Hunan, Tiongkok, di tepi danau Dong Ting.

Lu Dongbin menyamar menjadi seorang lelaki tua yang menjual minyak untuk memasak. Dengan cara menjual minyak sebagai dalih untuk bertemu dan memilih orang yang diprospeknya, lalu bila seorang pelanggan terlihat tidak tamak, tidak meminta lebih banyak minyak daripada yang dibayarnya, maka dia akan menolongnya.

Jadi, selama bertahun-tahun dia berkeliling untuk menjual minyak, selama itu para pelanggan yang ditemui semuanya tamak meminta terlalu banyak, kecuali seorang perempuan tua. Bagaimanapun si perempuan tua, hanya mengambil sesuai dengan yang dibayarnya, bahkan tidak lebih satu tetes pun.

Mengejutkan, Lu Dongbin berpikir akhirnya dia menemukan seseorang yang layak diselamatkan. Dia bertanya pada perempuan itu, “Semua yang datang membeli minyak selalu ingin mendapatkan lebih kecuali Anda. Kenapa tidak meminta lebih?”

Si perempuan menjawab, “Saya cukup puas dengan sebuah botol minyak, selain itu sangatlah tidak mudah bagi Anda untuk mencari nafkah dengan menjual minyak. Bagaimana saya boleh meminta lebih?” Kemudian dia menawarkan Lu Dongbin minuman arak untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Lu Dongbin merasa dia adalah seorang prospek yang baik dan bermaksud memberikan penyelamatan kepadanya. Saat dia menemukan ada sebuah sumur di ladangnya, dia menaburkan beberapa biji padi ke dalamnya. Dia berkata pada perempuan itu, “Anda bisa mendapatkan keberuntungan dengan menjual air dalam sumur ini.” Lalu dia beranjak pergi.

Perempuan tua itu berbalik dan menemukan air dalam sumur tersebut telah berubah menjadi arak. Seperti saran Lu Dongbin, perempuan tua itu menjual arak dalam sumur itu dan meraih keberuntungan selama setahun.

Pada suatu hari Lu Dongbin datang kembali ke tempat perempuan tua itu. Si perempuan tua tidak berada di rumah, hanya anak lelakinya yang ada di dalam. Lu Dongbin bertanya padanya, “Bagaimana hasil dari usaha menjual arak?”

“Usahanya berjalan sangat baik, tetapi tidak ada penyulingan biji–biji padi untuk memberikan makanan pada babi-babi.” jawab si anak lelaki. Mendengar perkataannya, Lu Dongbin mendesah. “Ketamakan manusia telah mencapai pada tingkat separah ini.” Maka dia mengambil kembali biji-biji beras dalam sumur tersebut dan berlalu pergi.

Tidak lama kemudian, perempuan tua itu kembali. Anak lelakinya menceritakan apa yang telah terjadi. Dia pergi ke sumur dan melihat ke dalam. Arak di dalamnya telah berubah kembali menjadi air. Si perempuan tua itu bergegas ke pintu, namun Lu Dongbin telah menghilang.

Lu Dongbin meninggalkan Yue Yang menuju Danau Dong Ting dan meninggalkan sebuah puisi yang meratapi sifat manusia, “Tiga kali ke Yue Yang namun belum menemukannya, menyenandungkan sajak saat melintasi Danau Dong Ting.” (EpochTimes)

Bedah Medis Kuno








Meskipun sekarang sudah jaman modern, pasien yang akan menjalani operasi bedah otak masih merasa takut dengan prosedurnya. Rongga tengkorak adalah salah satu area paling yang lemah dalam anatomi tubuh manusia, dan otak adalah bagian yang paling penting di mata ahli bedah. Banyak orang mengerti jika dengan tidak sengaja menyebabkan kerusakan sekecil apapun pada otak, maka konsekuensinya sangat besar.

Tetapi hal yang terlihat sebagai prestasi paling berani dalam pengobatan modern, anehnya adalah prosedur yang juga sudah dipergunakan dalam sejarah kuno. Pembedahan - suatu praktek membuka atau membuat lubang pada tengkorak - ini adalah praktek yang sudah dilakukan orang-orang di seluruh dunia selama ribuan tahun.

Tengkorak-tengkorak yang pernah dibedah telah ditemukan di beberapa daerah berbeda di dunia, termasuk dalam 'Dunia Baru' sisa dari kultur pra-Colombia, dimulai dari penemuan spesimen Peru pada 1863.

Contoh lain adalah penemuan tengkorak dengan bekas bedah ganda berumur 5000 tahun di Prancis dari periode Neolithic (Jaman Batu Baru). Bukti keberhasilan bedah tengkorak ini sangat jelas dan individu itu terus hidup setelah menjalani operasi kronis tersebut.

Melihat sejarah yang lebih tua, lebih banyak bukti praktek pembedahan juga ditemukan dari periode Mesolithic (Jaman Batu Pertengahan), antara 10.000 dan 5.000 tahun lampau. Tengkorak bekas bedah yang paling tua ditemukan di Ukraina pada 1966, dan tengkorak itu berumur 8.020 dan 7.620 tahun - yaitu dari jaman ketika kebanyakan ahli arkeologi percaya bahwa manusia baru saja pindah dari tinggal di gua ke rumah.

Lebih dari sekedar pengobatan

Yang pasti, dari tingkat kesulitan prosedur itu bisa disimpulkan suatu derajat ke-trampilan medis yang tinggi, meskipun sebagian ahli antropologi juga menghubungkannya dengan ritual mistik, dilihat dari banyaknya bekas tengkorak bekas bedah yang ditemukan di beberapa tempat. Di Baumes-Chaudes, Prancis, dari 350 tengkorak diperiksa, ditemukan 60 tengkorak yang bekas bedah.

Dengan jumlah tengkorak bekas bedah yang cukup besar, sebagian orang berpikir bahwa ini adalah suatu 'kehormatan' yang diberikan kepada segmen populasi tertentu. Contohnya para Firaun dari Mesir, mereka akan menjalani bedah tengkorak beberapa kali dalam hidup karena suatu kepercayaan agar jiwa mereka akan lebih mudah untuk meninggalkan tubuh-tubuh mereka setelah kematian.

Dewasa ini, para dokter medis menempuh metode yang sulit ini hanya untuk mengurangi tekanan dari tengkorak pasien dan mengeringkan pendarahan, selain itu biasanya tidak ditempuh metode itu mengingat resikonya yang tinggi. Bagaimanapun juga yang berpendapat orang kuno punya pertimbangan selain dari keperluan medis untuk membuka kepala.

Sementara ada beberapa orang menganggap nenek moyang kita menggunakan pembedahan untuk menyembuhkan penyakit mental - bertujuan untuk membebaskan otak pasien dari siksaan hantu dan roh yang merasuk - peneliti lainnya mengatakan pembedahan tengkorak masa lampau adalah suatu cara untuk menawarkan pengalaman spiritual yang sangat menggembirakan. Kepercayaan semacam itu masih berlaku hingga sekarang.

Pada tahun 1962, Orang Belanda Bart Hughes menerbitkan Mechanism of Brainblood volume, mengatakan bahwa dengan melubangi tengkorak, volume otak darah meningkat. Dengan demikian, Hughes percaya individu yang melakukan hal ini dapat meningkatkan kesadaran mereka, dengan suatu kesadaran lebih tinggi mendekati kesadaran seorang anak dengan 'soft spot'nya.

Dengan berdiri diatas kepala atau mengonsumsi tumbuh-tumbuhan yang dapat meningkatkan aliran darah ke otak, kondisi yang serupa dapat dicapai untuk sementara. Tetapi Hughes lebih tertarik dengan kondisi yang lebih permanen dibanding hanya dengan tumbuh-tumbuhan, karena itu dia melakukan prosedur ini pada dirinya sendiri pada 1965.

Beberapa orang juga mengikuti langkah Hughes; contohnya seniman Amanda Feilding yang merekam proses bedahnya sendiri di dalam suatu dokumen berjudul Heartbeat in the Brain.

Peralatan bedah

Dalam beberapa praktek medis kuno, jika suatu pasien menderita sakit kepala karena tumor, dokter akan menggunakan alat untuk mengetuk bagian-bagian kepala tertentu. Ketika orang itu mengeluh kesakitan, praktisi medis akan merasa yakin bahwa tumor telah ditemukan.

Kemudian operasi itu dilaksanakan memberi pasien anestetik primitif. Spesialis akan memotong kulit kepala lalu meretakkan tulang dengan alat bedah sederhana dan berhati-hati agar tidak membuat kerusakan pada otak pasien.

Bagaimana mereka memotong dan mengambil bagian tulang adalah suatu misteri, karena tengkorak terbukti tidak gampang dilubangi.

Begitu operasi selesai dilakukan (mungkin di bawah kondisi sangat steril), lapisan kulit lembut akan dijahit kembali. Sepanjang tidak ada implan modern, bagian tengkorak yang retak tidak bisa disisipkan kembali, dan akhirnya kulit baru akan tumbuh di atas lubang.

Inca kuno mempunyai pisau yang disebut tumi untuk melakukan prosedur pembedahan. Bentuk tumi yang sekarang banyak digunakan sebagai lencana itu, diadopsi dari Akademi Pembedahan Peru, memegang peranan yang tinggi sebagai satu bagian penting dari kebudayaan Inca kuno, dan digunakan secara ekstensif untuk mempromosikan turisme di Peru.

Fitur mata pisau yang sukar dimengerti oleh seorang manusia dengan satu hiasan kepala yang rumit, berdiri di puncak menyerupai suatu pisau berbentuk sekop. Obyek sakral ini mempunyai suatu sejarah bahwa bahkan mendahului peradaban Inca. Pada 2006, 12 tumi ditemukan dalam satu kompleks pemakaman pra-Inca kuno di Peru.

Hippocrates mengusulkan pembedahan tengkorak bagi luka-luka di kepala, dan Yunani kuno mempunyai beberapa peralatan untuk melaksanakan prosedur tersebut. Salah satunya adalah terebra berbentuk 't ', yang cara kerjanya hampir menyerupai alat bor primitif.

Sementara peradaban Mesir kuno dapat bangga dengan peralatan medisnya yang relatif maju. Para peneliti percaya bahwa mereka melakukan pembedahan otak dengan sebuah palu dan pahat.

Sebuah fakta yang menarik untuk dicatat dalam prosedur peradaban Mesir kuno adalah terdapatnya seorang yang berfungsi sebagai 'hemostatic' (agen yang berfungsi untuk menghentikan pendarahan). Pengobatan spesialis kuno ini memiliki kekuatan yang diduga dapat menghentikan pendarahan dengan menghadirkannya di dalam ruang operasi.

Bedah medis ini telah berkembang lebih dari 10.000 tahun, jauh melampaui prosedur pengobatan standar modern. Akan tetapi sebagian besar komunitas medis dengan tegas mengeluarkan larangan terhadap keinginan kuat pembedahan yang dianggap tidak perlu, dikarenakan dapat terjadi beberapa resiko kematian.

Meskipun euphoria tuntutan pembedahan jaman sekarang mendukung permintaan tegas atas hasil penembusan tengkorak, banyak profesional medis memperhitungkan bahwa manfaat yang telah diperhitungkan tidak mungkin terjadi dan memiliki resiko yang tak berarti.

Jadi bagaimanakah asal mula pembedahan medis dan siapakah dokter bedah pertama? Apakah begitu banyak orang jaman kuno benar-benar mencari cara pengobatan untuk meredakan sakit kepala yang hebat, atau apakah susunan spesimen penting yang ditemukan di seluruh dunia tersebut mengatakan bahwa nenek moyang kita memiliki motivasi lain untuk dapat melalui resiko operasi tersebut?


Plato dan Idea Kebahagiaan






platoBanyak orang pasti mengenal Plato. Dialah seorang filosof Barat yang paling populer dan dihormati di antara filosof lainnya. Karya-karyanya menjadi rujukan awal bagi perkembangan filsafat dunia. Plato dilahirkan di Athena sekitar tahun 427 SM, pada masa akhir zaman keemasan Athena setelah setahun kekuasaan Pericles berakhir, atau tiga tahun sejak perang Athena dengan Sparta. Keluarganya paling terpandang di Athena.

Ayahnya, Ariston adalah keturunan raja terakhir Athena. Ibunya, Perictione adalah keturunan Solon, seorang aristokrat reformis yang menulis undang-undang tentang demokrasi Athena. Kehidupan Plato dalam lingkungan aristokrat membuatnya cukup dikenal di kalangan pejabat tinggi Athena, walau ia seorang yang pendiam dan dingin.

Pemikiran filsafatnya sangat dipengaruhi oleh gurunya, Socrates, yang telah mengajarinya selama 8 tahun. Hingga saat sang guru diadili dan dihukum, ia masih berusia 28 tahun. Setelah Socrates meninggal pada tahun 399 SM, karena terancam jiwanya akibat perang saudara kaum aristokrat dan kaum moderat serta diliputi kesedihan sepeninggal gurunya, Plato meninggalkan Athena bersama sahabat-sahabatnya. Mulai saat itulah ia melakukan perjalanan ‘filosofi’ ke berbagai kota. Hingga saat ia kembali ke Athena, ia membeli beberapa lahan di luar benteng kota Athena yang dikenal dengan nama Grove of Academus (Hutan Academus). Di sinilah awal dari tumbuhnya sekolah yang terkenal yang dinamakan Akademi. Akademi ini merupakan cikal bakal universitas Abad Pertengahan dan Abad Modern yang selama 900 tahun menjadi sekolah yang mengagumkan di seluruh dunia.

Selama sisa hidupnya ia tidak menikah, waktunya selama 40 tahun banyak dihabiskan untuk mengajar dan menulis di Akademi. Walau setelah 20 tahun mengajar ia sempat ke Syracuse, untuk mendidik raja muda, Dionisius II menjadi seorang raja filosof, yakni filosof yang menjadi raja atau raja yang belajar filsafat. Ini berkaitan dengan misi hidupnya mencapai cita-cita bagi perkembangan filsafat sejati dan pendidikan bakal raja filosof di Akademi. Baginya raja dengan pengetahuan yang baik akan mampu mengetahui kebenaran, keadilan sejati sehingga mampu menjalankan pemerintahan terbaik. Sebuah cita-cita yang di suatu masa di kemudian hari banyak memberi pengaruh terhadap raja-raja Eropa. Selepas itu ia kembali ke Akademi hingga meninggal dunia pada tahun 348 SM dalam usia 80 tahun.

Teori Idea

Plato memandang bahwa kehidupan ideal adalah kehidupan pikir, harmoni adalah idealitas jiwa manusia. Artinya bahwa akal sebagai dasar, pengendali, pengatur bagi setiap pemahaman. Ia seorang rasionalis seperti halnya Socrates. Realitas pada dasarnya terbagi ke dalam realitas yang dapat ditangkap oleh indera (kasat mata) dan realitas yang hanya dapat dipahami oleh akal. Segala yang nyata dalam alam bersifat mengalir, dapat hancur, dapat terkikis oleh waktu, karena terbuat dari materi yang dapat ditangkap oleh indera. Ini dikenal dengan sebutan dunia materi.

Sedangkan ada realitas di balik dunia materi yang di dalamnya tersimpan pola-pola yang kekal dan abadi tak terkikis oleh waktu yang dikenal dengan dunia ide. Dunia ide ini hanya dapat ditangkap oleh akal. Dunia ide inilah dunia yang sebenarnya. Dalam analogi mitos gua Plato, realitas yang sebenarnya berada di dunia terang di luar gua, bukan bayang-bayang dinding gua dari benda yang sebenarnya. Fenomena alam hanyalah bayang-bayang dari bentuk atau ide yang kekal.

Ide Kebahagiaan

Boleh dikatakan bahwa Plato memandang akal sebagai sarana untuk menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu idea dalam realitas, seperti ide kebaikan, ide kebahagiaan dan ide keadilan. Ide kebaikan tertinggi manusia adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang bersifat absolut, abadi dan kekal, bukan kesenangan karena kesenangan hanyalah sekadar memuaskan nafsu badaniah semata. Lalu dari mana kebahagiaan terbentuk?

Dalam konsep Plato, dibandingkan dengan makhluk lain, manusia mempunyai esensi atau bentuk yang tidak sederhana, akan tetapi manusia tersusun dari beberapa elemen yang mengimbangi berbagai kapasitas atau fungsi lainnya. Kemampuan untuk berpikir merupakan kapasitas dan fungsi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Elemen akal ini merupakan hal yang paling penting. Elemen lainnya terdiri dari nafsu badaniah, yakni hasrat dan kebutuhan dan elemen rohani yang terungkap dalam bentuk emosi, seperti kemarahan, ambisi, kebanggaan, kehormatan, kesetiaan, dan keberanian.

Ketiga elemen tersebut yang terdiri dari akal, rohaniah dan nafsu badaniah disebut dengan jiwa tripartit. Rasa kebahagiaan manusia sebagai kebaikan tertinggi bersumber dari sifat-sifat alaminya yang berfungsi sebagai penyeimbang dari pemenuhan kebutuhan ketiga elemen yang membentuk manusia. Oleh karena itu, karena memiliki jiwa tripartit inilah maka kebaikan tertinggi bagi manusia adalah rasa tenteram atau kebahagiaan. Kebahagiaan didapat dari tiga pemenuhan tiga bagian jiwa di bawah aturan dan kendali akal. Dari ketiga elemen tersebut penggunaan akal sebagai sarana berpikir adalah yang paling penting dalam esensinya sebagai manusia. Dalam hierarki berada pada tingkat tertinggi. Nafsu badaniah berada pada tingkatan paling rendah, sedangkan elemen rohaniah berada pada tingkatan menengah. Inilah yang dikenal sebagai teori diri atau kepribadian tripartit milik Plato.

Harmoni Tripartit

Dengan demikian dari ketiga elemen tidaklah boleh dihilangkan atau diabaikan salah satunya dalam mencapai kebahagiaan. Harmoni atau keseimbangan pemenuhan di antaranya dengan akal sebagai pengarah rohani dan nafsu maka seseorang bisa memuaskan sifat alami manusia yang kompleks. Dan jika setiap elemen mampu berfungsi dalam kapasitas dan perannya masing-masing sesuai dengan bangunan diri, maka kehidupan orang seperti ini bisa dikatakan bijak dan mengalami keadilan jiwa. Penggabungan kepribadiannya menjadi ketenteraman dan kebahagiaan. Keharmonian di antara elemen rasional dan tak rasional jiwa inilah yang harus dipahami, karena berkaitan dengan sikap moral, moralitas seseorang.

Sebagai gambaran misalkan ketika fungsi-fungsi akal terpenuhi sebagai pengendali elemen jiwa lain, maka akal akan menampilkan kebajikannya, yakni dalam bentuk kebijaksanaan. Pada saat elemen roh menunjukkan fungsi kebencian, ambisi, maupun heroiknya dalam batas-batas tertentu, maka elemen ini menunjukkan bentuk keberanian. Berani dalam cinta, perang, maupun dalam persaingan. Elemen nafsu yang menampilkan fungsinya secara benar, maka akan menunjukkan kebajikan karakternya, yakni kendali diri. Yakni dengan menjaga kepuasan jasmaniah pada batas-batasnya. Keseimbangan ketiga karakter kebajikan tersebutlah yang mampu mengantar pada ide kebahagiaan.

Plato menganalogikan dengan jelas tentang fungsi dan peran ketiga elemen dengan analogi lain. Misalkan elemen akal adalah manusia, elemen roh adalah singa, dan elemen nafsu badaniah adalah naga berkepala banyak. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara membujuk singa agar membantu manusia menjaga naga hingga tetap dapat diawasi? Tentu saja dengan peran sebagai ‘pawang’ manusia harus mampu menjaga harmoni serta mengendalikan singa dan naga. (Mat/dari berbagai sumber)*

Membuka Rahasia Mumi

rahasia-mumi
Belakangan ini banyak sekali ditemukan mumi. Tidak hanya di makam kuno Mesir, tapi juga di bekas kuburan bangsa Inca-Peru. Usia mereka pun sudah sangat tua, lebih dari 1.000 tahun.


Mumi, nama ini demikian menyeramkan. Terbayang di pikiran kita sesosok mayat hidup dengan kain putih melilit di seluruh tubuhnya. Ia indentik dengan hantu di kompleks piramida Mesir. Padahal ia hanyalah sesosok mayat manusia purba yang diawetkan. Hanya saja film-film Barat telah menggambarkannya sebagai sosok hantu yang menakutkan.


Sejauh ini, sudah banyak ditemukan mumi di Mesir. Terakhir, pejabat umum urusan benda kuno Mesir belum lama ini mengatakan, bahwa arkeolog Perancis pada 26 April 2004 menemukan lebih 50 sosok mumi dan peti mayat yang dibuat dari kayu dan kapur. Dalam penjelasannya, Sekjen Dewan Tertinggi Benda-benda Kuno Mesir yakni Awwas mengatakan, bahwa sebuah tim arkeologi yang berasal dari istana Louvre Paris menemukan benda-benda tersebut di kawasan Sakalla kurang lebih 20 km di selatan Kairo.


Awwas mengatakan, selain mumi juga ditemukan patung kecil dan sejumlah benda-benda anyaman. Menurutnya, masa benda-benda ini berasal dari zaman Tuolemi pada masa 1.000 tahun kerajaan akhir Mesir pada tarikh kurang lebih 323-30 tahun sebelum Masehi. Versi lain menyebutkan benda-benda tersebut kemungkinan berusia 2.300 tahun. Menurut keterangan Dewan Tertinggi Benda-benda Kuno Mesir, tim arkeolog Perancis tersebut menemukan mumi-mumi dan peti mati ini ketika menyelidiki lubang makam di bawah tanah sebuah piramida di selatan Kairo. Kedua belas sosok mumi yang ditemukan di salah satu lubang itu “kondisinya baik”.


Awwas mengatakan, belum pernah melihat mumi dari masa kerajaan Tuolemi yang tersimpan dengan begitu sempurna ini, di dalamnya terdapat ratusan benda terbuat dari emas yang mestinya menurut masa itu adalah ajimat pelindung badan, sehingga menarik untuk diteliti lebih lanjut. Disebabkan oleh daya tarik benda-benda kuno Mesir yang tiada taranya terhadap orang awam, sebuah museum di Swiss juga sedang memamerkan pusaka Tuthankamen, dan ini untuk pertama kalinya sejak lebih dari 20 tahun, benda pusaka kerajaan Mesir tiba di Eropa dan dipamerkan, benda-benda seni Mesir kuno yang indah tak terbandingi ini menarik sejumlah besar orang-orang menyaksikannya.

rahasia-mumi2

Mumi Peru

Mumi ternyata bukan monopoli Mesir. Di Peru pada 5 Maret lalu, dari jalan umum sekitar tanah kuburan Inca di pinggiran ibukota Peru, ditemukan sejumlah besar mumi yang telah berusia di atas 500 tahun. Menurut laporan BBC dan media cetak lainnya, arkeolog menemukan mumi yang tak terhitung banyaknya dari 26 lubang makam, pada setiap lubang terdapat satu atau bahkan beberapa orang dewasa yang dijadikan satu dengan anak-anak, dan mumi-mumi ini diperkirakan berasal dari kurun waktu 1472-1533. Pada 1533, bangsa Inca dikalahkan oleh penakluk Spanyol.


Arkeolog Guillermo Cock adalah utusan yang dikirim oleh pemerintah kota Lima ketempat tersebut untuk penelitian barang-barang kerajinan tangan. Dia mengatakan bahwa ini adalah tanah kuburan Inca yang terbesar di Peru, yang juga merupakan satu bagian yang paling besar di antara tanah kuburan yang tergali di belahan bumi Barat. Pemerintah kota sedang mencoba membangun saluran jalan di tempat tersebut.


Cock merekomendasikan, mumi itu setengah terkubur, tidak diketahui persis jumlah mumi yang pasti. Ada sejumlah mumi telah dirusak, bahkan ada beberapa yang tulang tengkoraknya mencuat keluar, dan sejumlah mumi dengan kantung pakaian yang terikat di tubuhnya dan mengerut menjadi satu. Lebih lanjut Cock mengatakan: “Mumi-mumi ini pada masa hidupnya adalah penduduk setempat, berasal dari kalangan yang kita artikan sebagai kelas menengah sekarang, termasuk manusia semasa kekaisaran Flensa Inca.


Cock mengatakan, bahwa mereka adalah penenun. “Di dalam kuburan, 99% peralatan, seperti misalnya jarum pemintal dan mesin tenun semuanya digunakan untuk memroduksi mulai dari pakaian wanita hingga pencelupan bahan pakaian dan lain sebagainya,” jelasnya. Cock menambahkan bahwa titik penting dari temuan ini adalah keseluruhan barang-barang yang ditinggalkan dalam keadaan sangat utuh. Lagi pula bukti-bukti di sekeliling mumi-mumi secara nyata menunjukkan, bahwa mereka baru dikuburkan setelah terlebih dahulu diadakan upacara keagamaan. Selain itu juga terdapat gandum, kacang-kacangan, daun koka, poci teh dan barang peninggalan lainnya.


Sekalipun terdapat galian benda-benda bersejarah ini, pemerintah kota menyatakan tetap akan membangun jalan lingkar yang menembus ke kawasan pusat kota. Armando Mollina, juru bicara pemerintah kota menyatakan: “Pekerjaan membangun jalan-jalan raya ini tidak akan berhenti, ini adalah untuk pembangunan ibukota, kami akan mengepak mumi-mumi ini menjadi bungkusan besar, dan membawanya ke museum untuk disimpan dan digunakan sebagai bahan riset, ditinggalkan di sini, mungkin akan jadi bahan jarahan bagi orang tamak.”


Namun menurut Federico Kauffmann, pemerintah kota Peru bisa memikirkan cara yang lain, ia mengusulkan supaya jalan tembus dibangun melalui terowongan. Sehingga dengan demikian, jika ada benda budaya temuan baru tergali lagi, maka tidak akan rusak. “Peru tidak mempunyai dana dan teknologi untuk mengurus mumi-mumi ini, lagi pula di museum Puruchuco juga tidak ada ruang yang cukup untuk menyimpan mumi-mumi ini,” ujar arkeolog ini. Senada dengan itu, Cock mengatakan, bahwa tanah pekuburan ini akan dimasukkan dalam kategori pekuburan Inca kuno, sehingga dengan demikian proyek pembangunan jalan raya modern tidak akan terkena dampaknya.


Sejak beberapa tahun belakangan ini, arkeolog telah menemukan ribuan mumi di Peru, sebagian besar mumi berasal dari budaya Inca pada 5 abad silam, dan kurang lebih 2.000 mumi di antaranya digali pada tahun 2002 di perkampungan kaum miskin sekitar kota. Salah satu mumi Peru yang paling terkenal adalah “Juanita the Ice Maiden”, tubuh gadis ini terkubur dalam lapisan es di gunung.


Pada 12 Februari lalu juga ditemukan 2 sosok mumi Inca, pada lokasi sebuah sekolah di selatan Peru dan salah satu matanya masih terawat dengan baik. Kedua mumi pada 24 Februari lalu dipamerkan untuk umum. Kedua mumi ini masing-masing adalah seorang anak laki-laki dan seorang laki-laki dewasa yang berusia 30 tahun lebih, diperkirakan telah berusia 700 tahun, dapat dipastikan berasal dari masa sebelum peradaban Inca. Mumi-mumi itu tersimpan dengan utuh sekali, bahkan salah satu di antaranya masih mempunyai sebuah retina, begitu juga dengan organ yang masih terpelihara dengan baik.


Menurut kabar, ketika pekerja sedang memindahkan mumi waktu itu, secara tidak disengaja merusakkan sisi tubuh mumi, dari lubang pada sisi tubuh itu terlihat usus kecilnya, selain itu lemak di bawah kulitnya juga terpelihara dengan sangat baik. Setelah selesai pameran, akan diserahkan pada arkeolog untuk dirapikan dan diteliti lebih jauh, sehingga untuk jangka waktu yang cukup lama, tidak akan diperlihatkan lagi secara terbuka.

rahasia-mumi

Rahasia Pengawetan Mumi

Sebuah tim peneliti Jerman menyatakan telah mengungkap rahasia pengawetan mumi Mesir kuno. Dari hasil penelitian, ilmuwan berpendapat bahwa rahasia pengawet mumi adalah suatu zat ekstrak pinus salju, dan menurut mereka dengan menggunakan teknik yang matang bangsa Mesir kuno mengambil zat pengawet dari sari pohon pinus salju. Sari pohon pinus salju itu mengandung komposisi utama zat pengawet. Bangsa Mesir mengawetkan jasad keluarga yang meninggal menjadi mumi, dengan harapan agar orang yang meninggal mendapatkan kehidupan yang abadi.


Penulis ensiklopedia Romawi kuno, Pulini pernah membuat catatan tentang resep ramuan pengawet, namun sejarawan Mesir malah mengabaikan catatannya, barulah sekarang para ilmuwan berdasarkan cara-cara yang tercatat dalam buku tersebut mendapatkan bahan pengawet dari pohon pinus salju. Melalui percobaan kimiawi pinus salju pada potongan daging babi segar, peneliti mendapati bahwa zat kimia ini memiliki efek antikuman yang sangat kuat, lagi pula tidak mengakibatkan efek negatif terhadap susunan tubuh.

Sumber: The Epoch Times*

Kembalinya Sejarah Perburuan Elang Kuno Kazakhstan







alt

Pemburu Kazakh mengenakan pakaian nasional sambil memegang elang emas saat festival berburu Solburun. (AFP/Getty Images)

Chengelsy Gorge - Ketika salju turun di padang rumput Kazakhstan, pemburu mencongklang pelana dan pergi dengan elang di lengan mereka siap berburu mangsa.

Para pemburu mengikuti jejak hewan yang tertinggal di salju kemudian melepaskan elang raksasa mereka ke udara untuk menangkap rubah dan kelinci.

"Berburu adalah hidup saya," kata Baurzhan Yeshmetov, pria berusia 62-tahun dalam balutan beludru bersulam tunik, dengan seekor elang bertengger di lengannya sedang menatap tajam ke arah bukit-bukit berkabut.

"Elang ini adalah hidupku," tambah Yeshmetov yang, jika tidak berburu, bekerja sebagai sopir taksi di pusat keuangan Almaty di Kazakhstan.

Banyak orang di Kazakhstan menganggap perburuan elang sebagai simbol bangsa nomaden mereka di masa lalu dan sebuah nostalgia ke masa remaja sebelum padang rumput ini berubah menjadi medan pertempuran geopolitik antara kekuatan regional yang bersaing, Rusia dan China.

Dua dekade pertumbuhan ekonomi yang mengikuti kemerdekaan Kazakhstan dari kekuasaan Moskow pada tahun 1991 juga telah menciptakan generasi muda masyarakat Kazakh yang mencari identitas baru yang telah mendorong mereka untuk menggali sejarah lebih dalam.

"Pada masa-masa Soviet berkuasa semua kejadian ini menjadi terlupakan karena semua orang harus percaya pada komunisme," kata Dinara Serikbayeva yang memiliki museum perburuan elang di desa Nura.

Berbicara di Gedung Kebudayaan yang dibangun di masa Soviet di mana para pejabat pernah menatar penduduk desa mengenai pendekatan gambaran akan surga komunis, ia mengatakan perburuan elang telah berubah menjadi simbol baru atas identitas.

"Anak-anak menganggap hal ini menarik. Ini merupakan bagian penting dari leluhur nomaden kami dan kami sangat bangga karenanya."

Berburu sebagai Identitas

Disebut berkutchi dalam bahasa Kazakh, jumlah pemburu elang profesional hanya sekitar 50 di Kazakhstan — bangsa besar yang telah menggunakan kekayaan minyaknya untuk mengubah diri dari keterbelakangan setelah dijajah Soviet menjadi masyarakat konsumen moderen.

Mereka sering berkumpul di bukit-bukit es di perbatasan Kazakh dengan China — jauh dari kota-kota seperti Almaty, yang dipenuhi mobil mewah dan kafe-kafe wifi — untuk menentukan elang mana yang terbaik.

Elang Kazakh adalah salah satu binatang terganas di dunia, dengan lebar sayap sekitar 16.5 meter, dilengkapi cakar tajam dan kemampuan menyelam dengan kecepatan kereta ekspres - hingga 190 mph.

Selama turnamen 5 Desember, sejumlah juri mengawasi dengan wajah tanpa senyum dari puncak bukit bersamaan dengan para pemburu, dengan memakai topi bulu rubah, melepaskan tali dan melepaskan elang ke udara.

Penduduk desa mempersiapkan daging asap di atas papan barbeque, pengeras suara mengumandangkan lagu-lagu rakyat, dan wisatawan dengan teropong dan perlengkapan lampu malam menatap heran.

Sebagian besar perburuan elang dilarang selama pemerintahan Soviet dan tradisi ini akan lenyap sama sekali seandainya tidak dilestarikan oleh etnis Kazakh di China dan Mongolia.

Lebih dari satu juta masyarakat Kazakh mengambil keterampilan untuk kuburan mereka selama bencana kelaparan Soviet menimpa di tahun 1930-an ketika kampanye pengambilan paksa Josef Stalin membabat habis seluruh desa di Kazakhstan, Ukraina dan Rusia.

"Kelaparan, penindasan, perampasan. Orang-orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan elang mereka," kata Yepemes Alimkhanov, seorang pejabat pemerintah yang bertanggung jawab menghidupkan kembali kegiatan olahraga nasional.

"Ini adalah sebuah tragedi. Tapi tradisi akan datang kembali. Kami telah mewarisi tradisi pada putra dan putri kami," katanya.

Jumlah elang terlatih di desa Nura sendiri tumbuh menjadi 30 ekor dari sebelumnya dua ekor sejak 1990. Memang, segala sesuatu yang terjadi di Nura tampaknya berkisar pada tradisi. Bahkan halte bus desa terdapat mosaik besar berbentuk elang terbang.

Jumlah elang terlatih di desa Nura sendiri tumbuh menjadi 30 dari hanya dua sejak tahun 1990. Memang, segala sesuatu dalam Nura tampaknya berkisar pada praktek. Bahkan halte bus desa olahraga mosaik besar elang terbang.

Pada malam kompetisi baru-baru ini, para keluarga berkumpul di dalam pondok-pondok mereka untuk pesta makan, menyajikan hidangan nasional berupa daging kenyal dan adonan berminyak. Mereka berbicara tentang elang.

"Tahun ini tentu saja tidak ada yang punya uang, ini adalah masa krisis," kata Bagdat Muptekekyzy, seorang penyelenggara turnamen. "Sulit memang. Tapi kita akan melakukan apa saja untuk menjaga pemburu kami menerbangkan elang mereka." (rtr/ val)

Mon Simbol Keluarga Jepang







Lambang Kekaisaran Jepang berdasarkan bunga krisan di Yasukuni Shrine di Tokyo

Lambang Kekaisaran Jepang berdasarkan bunga krisan di Yasukuni Shrine di Tokyo

Jepang - Mon atau Kamon, yang secara harafiah berarti "lambang keluarga," adalah logo-logo yang orang Jepang biasa gunakan untuk menunjukkan garis dan status suatu keluarga. Terdapat lebih dari 5.116 mon, dikategorikan ke dalam 241 macam.

Tidak seperti lambang keluarga Barat yang biasanya menampilkan simbol singa, naga, burung rajawali, dan makhluk lainnya yang biasanya menyimbolkan kekuatan, Mon cenderung menggunakan simbol tanaman, burung, bulan, dan sejenisnya. Mereka menampilkan bentuk yang lebih halus, disain feminin dan juga cenderung digunakan dengan bebas di antara orang kebanyakan.

Asal Mula dan Sejarah

Sebagai sebuah simbol sederhana yang mewakili sebuah keluarga, Mon telah banyak menghiasi gua-gua, pakaian dan peralatan. Bagaimanapun juga, secara luas telah dipercaya bahwa asal asul Kamon yang sebenarnya berawal dari periode Zaman Heian*) (tahun 794-1185). (Heian sendiri secara harafiah berarti perdamaian dan keamanan) Beberapa pelayan dari golongan bangsawan mulai meletakkan "lambang keluarga" mereka pada karoseri gerobak sapi mereka untuk membedakannya dari pelayan keluarga-keluarga lainnya.

Setelah periode Heian yang relatif berlangsung damai, prajurit daerah yang dulu biasanya bekerja dibawah kekuasaan golongan bangsawan untuk memungut pajak dari para petani, melibatkan diri dalam politik di Ibukota Kyoto. Mereka membangun sendiri kekuatan politik, mengawali prajurit masa pertengahan.

Pembentukan prajurit pemerintahan sendiri di Kamakura menandai awal berdirinya periode Kamakura (1185-1336). Lalu mon menjadi simbol penting pada pakaian baja dan bendera guna membedakan musuh dan kawan.

Selama periode peralihan Muromachi (1336-1573) antara periode prajurit dan era Shogun yang bertahan lama, pakaian upacara adat Reifuku menjadi populer di mana mengenakan lambang kecil keluarga di belakang mantel dan di bawah leher, menjadi hal yang cukup penting.

Suatu waktu ketika Jepang dipersatukan oleh pemerintahan Tokugawa Shogun yang telah berjalan selama lebih dari 200 tahun dan sering disebut zaman Edo (1603-1867) tanpa ada perang maupun intervensi pihak luar.

Para aktor dan pelacur, yang dianggap sebagai orang "trend" pada masa itu, mulai menggunakan hiasan mon pada Kimono mereka; dan konsepnya kemudian menyebar luas ke khalayak umum. Tidak ada konotasi feodalisme di sini, dan para perancang busana yang berspesialisasi membuat Mon menjadi sangat populer, mengawali kebudayaan penggemar emblem yang tak ada satu pun didunia saat itu.

Penggunaan di zaman moderen

Berbagai Jenis Mon

Berbagai Jenis Mon

Di zaman Jepang yang moderen, Anda akan menemui Kamon pada pemakaman dan pernikahan.

Bagaimanapun juga, orang Jepang pada masa moderen sekarang tidak membatasi Mon sebagai sebuah simbol peninggalan keluarga, namun juga memiliki kesenangan ketika menggunakan mereka untuk menciptakan sebuah identitas pribadi.

Mereka boleh saja menggunakannya untuk menghiasi kartu nama mereka untuk identitas mereka sendiri, atau sebagai sticker dengan gaya tulisan Zaman Edo. Sama seperti orang suka menaruh mereka di belakang pakaian kimono mereka, para remaja menggunakan T-shirt dengan Mon.

Beberapa Jenis Mon:

Chrysanthemum (Bunga Krisan)

Kesembilan bulan melambangkan bulan bunga krisan pada kalender kuno dan pada 9 September, orang Jepang merayakan festival bunga krisan, mengharapkan kebahagiaan. Seperti dikatakan bahwa Keluarga Kerajaan mengadaptasi Mon ini sebagai kelopak-kelopak bunga krisan menyerupai matahari yang bersinar.

Mon kerajaan memiliki 16 daun bunga dengan dobel kelopak bunga, ketika Mon digunakan sebagai paspor orang Jepang dan lencana yang digunakan oleh anggota Parlemen adalah kelopak bunga tunggal.

Padi

Di dalam surat gulungan kuno, terdapat catatan tentang sebuah tempat suci yang secara resmi menggunakan nama keluarga Hozumi, yang berarti setumpuk beras, tempat untuk mempersembahkan hasil panen beras suatu keluarga.

Bunga Ceri

Terdapat lebih dari 100 jenis mon ceri, sebuah fakta yang menunjukkan ketenaran bunga ini dalam masyarakat Jepang.

Bulan dan Bintang

*) Zaman Heian (794 - sekitar 1185) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, dimulai dari tahun 794 ketika Kaisar Kanmu memindahkan ibukota ke Heian-kyo hingga dibentuknya pemerintah Keshogunan Kamakura sekitar 1185.


Metode Amputasi Eksis pada Jaman Batu







Amputasi Jaman Batu: Sejumlah ilmuwan menemukan bukti kecanggihan amputasi pada jaman batu dalam kerangka ini. (Courtesy of Antiquity Journal)

Dokter-dokter pada Jaman Batu terbukti lebih maju dibandingkan bayangan kita sebelumnya.

Dengan ditemukannya bukti baru operasi pembedahan yang dilakukan sekitar 7.000 tahun lalu, kini kemajuan ilmu kedokteran Jaman Batu menjadi semakin jelas.

Temuan ini juga memperjelas kemajuan pengetahuan medis pada 4.900 SM, dengan ditemukannya sejarah pembedahan dan perkembangannya.

Pada situs Neolitik yang digali pada 2005 lalu, di Buthiers-Boulancourt, 40 mil selatan Paris, para ilmuwan menemukan sebuah kerangka orang tua 7.000 tahun. Beberapa pengujian menunjukkan bahwa ia pernah menjalani amputasi dengan menggunakan batu tajam untuk memotong tulang humerus diatas tekukan trochlea.

Sangat mengesankan, pasien bahkan dibius. Anggota badan yang dipotong terlihat bersih dan luka dirawat dalam kondisi steril. Bedah tengkorak adalah hal biasa yang dilakukan para dokter Jaman Batu. Namun tentang amputasi belum pernah terdengar hingga saat ini.

Menurut sebuah makalah penelitian yang diterbitkan Antiquity Journal, pemeriksaan makroskopik menunjukkan tidak terjadi infeksi setiap kali dilakukan amputasi. Hal ini sebagai pertanda apa yang telah dilakukan dalam kondisi relatif steril.

Para ilmuwan menemukan bahwa pasien ini selamat setelah menjalani operasi, meskipun ia menderita akibat osteoarthritis. Namun pasien dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sesudahnya.

Menurut Daily Mail, peneliti Cécile Buquet-Marcon, mengatakan bahwa tanaman yang kemungkinan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit adalah Datura, dan tanaman lain seperti Sage kemungkinan digunakan untuk membersihkan luka.

Hilangnya lengan bawah pasien ini bukan karena ia dikucilkan dari masyarakat. Kuburannya berukuran lebih dari 6,5 kaki dan berisi sebuah kapak batu tulis, batu api dan seekor hewan muda, yang mengindikasikan orang ini dari tingkat sosial tinggi. (EpochTimes/ sua)


Pengobatan Tradisional China







Memeriksa denyut nadi adalah teknik diagnosis yang biasa digunakan dalam Pengobatan Tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM). (SCREENSHOT)Suatu seni penyembuhan yang telah dikenal lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Pengobatan Tradisional China (TCM) dan sejarah makanan di China sangat erat kaitannya. Secara tradisional, masyarakat China menghubungkan konsumsi makanan tertentu untuk fungsi tubuh tertentu. Budaya dan filosofi China menyatakan bahwa fungsi tubuh, makanan yang dikonsumsi seseorang, dan bagaimana penyakit diobati berkaitan erat dengan lingkungan seseorang.

Seorang tabib yang mempraktekkan TCM mencari tanda-tanda ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan dalam lingkungan internal dan eksternal pasien untuk memahami, merawat, dan diharapkan dapat mencegah penyakit. Bentuk pelayanan kesehatan ini telah berkembang selama ribuan tahun, berakar kuat pada sistem kepercayaan kuno, termasuk konsep-konsep spiritual tradisional.

Filosofi pengobatan semacam itu berdasarkan teori Yin dan Yang, lima elemen, delapan prinsip, teori Zang Fu (teori yang menguraikan tentang fungsi fisiologis dan perubahan patologis dari organ dalam dengan fokus utama pada fungsi fisiologis organ dan jaringan somatik), dan sistem meridian tubuh.

Seorang praktisi TCM yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan herbal, terapi makanan, akupunktur, moxibustion (memanaskan moxa –substansi berbulu halus yang diperoleh dari daun kering– di dekat lokasi atau di titik tertentu sebagai kontra iritant), cupping atau kop (melancarkan darah dengan memanaskan gelas kaca atau gelas plastik yang diletakkan di titik-titik tertentu –umumnya di punggung– hingga mendapatkan tekanan hampa udara), atau chiropractic (pengobatan yang menitikberatkan pada diagnosis, perawatan dan pencegahan penyimpangan mekanisme terutama pada tulang belakang) mungkin dapat menggunakan satu, atau sebagian, atau bahkan semua metode perawatan agar sembuh.

Pada kasus saya sendiri, penggunaan campuran herbal China selama perjalanan ke luar negeri dapat menyembuhkan batuk yang membandel – dan tidak kambuh lagi selama hampir sepuluh tahun! Antibiotik, obat yang diresepkan dokter Barat, tidak dapat melakukan apa pun untuk menyingkirkan batuk saya.

Hingga saat ini praktek TCM masih menjadi andalan sistem pengobatan masyarakat China, bersama dengan praktek kedokteran modern Barat. Sebelum abad ke-19, dokter China dan Barat sama sekali tidak mengetahui tentang bakteri penyebab infeksi.

Praktisi medis Barat dan China kemudian bergantung terutama pada pengamatan dan pengalaman untuk melawan invasi bakteri yang berbahaya; pemahaman tentang “teori kuman” baru dimungkinkan setelah abad ke-20. Di abad ke-21, ahli TCM telah mencapai hasil yang terpercaya dalam memerangi efek kemoterapi pada pasien kanker, pecandu narkoba, dan pengobatan kondisi kronis, seperti diabetes dan penyakit ginjal tertentu serta memberantas malaria dengan tanaman Artemisia.

Praktisi TCM terus menempa keahlian mereka, dalam hubungannya dengan praktek kedokteran Barat. Wacana ini dipublikasikan dalam laporan Victoria / Australia yang menyatakan, “Lulusan TCM mampu mendiagnosis penyakit dalam istilah kedokteran Barat, meresepkan obat-obatan Barat, dan melakukan prosedur pembedahan kecil. Akibatnya, mereka membuka praktek TCM sebagai suatu keahlian dalam spektrum pengobatan kesehatan China dengan kerangka yang lebih luas.” (http://www.health.vic.gov.au/archive 2006) Namun, prinsip dasar seni penyembuhan ini didasarkan pada beberapa aliran filsafat.

TCM berakar pada Taoisme, Buddha, dan Neo-Konfusianisme. Pelajar China dari segala macam bidang selama 3.000 tahun terakhir (dari 1200 SM sampai sekarang) telah fokus pada hukum alam semesta yang nampak dan bagaimana mereka mengimplikasikan posisi manusia dalam alam semesta. Sastra klasik China seperti I Ching dan Spiritual Tao, dan beberapa sastra lain, menghubungkan prinsip-prinsip alam semesta dengan kesehatan dan penyembuhan.

Salah satu pertimbangan utama adalah: manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan alam semesta; keseimbangan dan kesehatan yang optimal merupakan hasil dari interaksi harmonis antara kejadian alam semesta dan perubahan selanjutnya, segala sesuatu di alam semesta ini pada akhirnya saling berhubungan. Mengingat hal tersebut, tidak perlu susah payah membayangkan jika tubuh manusia merupakan perwujudan dari alam semesta kecil, dengan satu sistem interkoneksi yang utuh, lengkap, dan canggih. Dengan demikian, ahli TCM akan selalu menggunakan pendekatan holistik dan cermat untuk menghindari kerugian pasien.

Perusahaan farmasi Barat mulai mengakui nilai TCM dan merekrut tim ilmuwan untuk melakukan studi double blind (suatu studi dimana peneliti maupun objek penelitian sama-sama tidak mengetahui obat mana yang digunakan) yang mahal di beberapa belahan dunia untuk mengumpulkan beragam jenis tumbuhan obat dan pengetahuan dari praktisi tradisional China. Perusahaan farmasi sangat menyadari bahwa senyawa yang paling banyak digunakan dalam pengobatan modern berasal dari tanaman, atau dalam beberapa kasus, berasal dari binatang.

Di China modern, kepercayaan terhadap TCM sangat kuat, meskipun seseorang lebih menyukai berkonsultasi dengan dokter Barat jika patah kaki atau usus buntu pecah, namun kemudian dilanjutkan dengan latihan China tradisional untuk meningkatkan kesehatan, meminum ramuan tradisional China, dan mengonsumsi makanan China yang tepat untuk tetap sehat setelah krisis telah berlalu.

Hal ini juga perlu diperhatikan bahwa setidaknya di kota-kota besar di China, seorang praktisi TCM modern akan merujuk pasiennya ke fasilitas medis Barat jika sistem pasien terlalu “tidak seimbang” untuk diobati melalui pengobatan tradisional China. Namun hal ini tidak dapat menghalangi saya mengutip beberapa peribahasa China, “Sebuah obat populer yang belum dicoba sering membuat histeris dokter ilmiah. Dokter yang tidak perhatian tidak lebih baik dari seorang pembunuh. Dokter tingkat rendah merawat penyakit yang sudah timbul, dokter tingkat medium merawat penyakit yang akan datang, sedang dokter yang unggul dapat mencegah datangnya penyakit.”

Seharusnya kita merasa beruntung memiliki dokter yang unggul dalam hal pencegahan penyakit daripada mengobati setelah menderita penyakit. (Secret China/feb)

Minggu, 21 November 2010

Legenda Kraken, Sang penguasa lautan

Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.
Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata “Krake” dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.
www.haxims.blogspot.com
Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.


Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken “tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal”.

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?

Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan
Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasa sedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.

www.haxims.blogspot.com
Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.


Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.

Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.

Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.

Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.

Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.

Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.

Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.

Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.

Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.

Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).

Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.

“Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu.”

Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.

Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.

www.haxims.blogspot.comwww.haxims.blogspot.com
Dendam lama tidak pernah berakhir.

Giant Squid, Colossal Squid dan Giant Octopus
Sekarang, mari kita sedikit mengenal lebih jauh tiga teman raksasa kita yang mungkin telah memicu legenda Kraken. Saya akan mulai dari Giant Squid atau Cumi raksasa.

Giant Squid atau Cumi-cumi raksasa
Giant Squid atau cumi-cumi raksasa yang berasal dari genus Architeuthis ini memiliki 8 spesies dan diketahui bisa memiliki panjang hingga 13 meter bagi yang betina dan 10 meter untuk yang jantan. Ukuran ini dihitung dari sirip caudal hingga ujung tentakelnya. Namun, ukuran cumi ini bisa jadi lebih besar daripada yang diperkirakan.

Pada tahun 1880, potongan tentakel ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan merupakan milik dari cumi raksasa yang memiliki panjang 18 meter. Ukuran yang sangat luar biasa!

www.haxims.blogspot.com
Ide kalau seekor cumi raksasa bisa menenggelamkan sebuah kapal mungkin terdengar mengada-ngada pada zaman ini. Namun, pada abad pertengahan, ukuran kapal tidak sebesar yang kita miliki sekarang. Contohnya, kapal Columbus yang bernama Pinta hanya memiliki panjang 18 meter. Sebuah cumi sepanjang 10-15 meter sudah bisa dipastikan dapat menyerang dan menenggelamkan kapal ini dengan mudah.

www.haxims.blogspot.comwww.haxims.blogspot.com
Perilaku giant Squid ini hampir tidak pernah dikenal sebelumnya hingga pada tahun 2004 ketika para ilmuwan Jepang berhasil mendapatkan 556 foto makhluk ini dalam keadaan hidup. Cumi-cumi tersebut terperangkap dalam sebuah jebakan yang dibuat. Ketika ia berhasil lolos, salah satu tentakelnya yang memiliki panjang 5,5 meter putus. Dari panjang ini, para ilmuwan tersebut memperkirakan kalau makhluk itu memiliki panjang 8 meter.

Colossal Squid atau Cumi Kolosal
Apabila kita mengira Cumi raksasa sudah memiliki ukuran yang luar biasa, maka, perkenalkan makhluk yang satu ini, Colossal Squid atau Cumi kolosal.

Makhluk ini memiliki nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni dan para ilmuwan percaya kalau makhluk ini bisa bertumbuh hingga paling tidak memiliki panjang 14 meter. Ini membuatnya menjadi hewan invertebrata terpanjang di dunia. Walaupun demikian, para ilmuwan tidak bisa memastikan hingga seberapa panjang hewan ini bisa bertumbuh.

Mengenai Colossal Squid, Dr.Steve O’Shea, ahli cumi dari Auckland University berkata:

“Sekarang kita tahu kalau makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Giant Squid. Giant Squid bukan lagi cumi terbesar di luar sana. Sekarang kita memiliki sesuatu yang lebih besar. Bahkan bukan cuma sekedar besar, tetapi benar-benar jauh lebih besar.”


www.haxims.blogspot.comwww.haxims.blogspot.com
Colossal Squid di foto di atas ditangkap di Laut Ross dan memiliki panjang mantel 2,5 meter. Ukuran ini termasuk luar biasa karena Giant Squid terbesar yang diketahui hanya memiliki panjang mantel 2,25 meter. Lagipula, Colossal Squid di atas dipercaya masih dapat bertambah panjang hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar.

Jika ada Kraken di luar sana, maka bisa dipastikan kalau Colossal Squid adalah tersangka paling utamanya.

Lalu, apa bedanya Giant Squid dan Colossal Squid?

Giant Squid hanya memiliki tentakel yang memiliki lubang penghisap dan gigi-gigi kecil, sedangkan Colossal Squid memiliki tentakel yang juga dilengkapi dengan kait yang tajam. Beberapa kait bahkan memiliki 3 ujung.

Selain dua jenis Cumi-cumi di atas, makhluk yang satu ini juga memiliki tentakel dan bisa bertumbuh dalam ukuran yang luar biasa, yaitu Giant Octopus.

Giant Octopus atau Gurita Raksasa
Giant Octopus atau gurita raksasa bisa bertumbuh hingga memiliki panjang 9 meter. Panjang ini cukup membuatnya menjadi monster yang ditakuti oleh para pelaut. Makhluk inilah yang dipercaya Monfort sebagai monster yang menyerang para pelaut Norwegia di lepas pantai Angola yang lukisannya tergantung di Kapel St.Thomas.

www.haxims.blogspot.com
Bangkai ini terdampar di pantai St.Augustine, Florida tahun 1896. Dipercaya sebagai Giant Octopus


www.haxims.blogspot.com
Pada masa kini, teori mengenai Cumi atau Gurita raksasa dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai legenda Kraken.

Jika kita beranggapan kalau legenda Eropa yang mengatakan kalau Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau sebagai “membesar-besarkan”, maka mungkin misteri Kraken memang sudah terpecahkan.

Tetapi, bagaimana kita bisa memastikannya?

sumber: http://all-mistery.blogspot.com/2010/07/legenda-kraken-sang-penguasa-lautan.html