Senin, 22 November 2010

Terapi Kanker Dalam Ilmu Kedokteran China







Artemisia annua – tanaman obat di China yang sudah digunakan sejak ribuan tahun. (INTERNET)
Sebuah obat rakyat terkenal dari China mungkin bisa menjadi solusi terapi kanker di masa depan. Obat-obat kanker saat ini menggunakan jalan memakai racun sel yang kuat untuk membunuh semua sel-sel tubuh secara lambat.

Memang dengan dosis yang optimal sel-sel kanker dapat dihancurkan, tetapi bersamaan itu menyebabkan kerusakan terhadap sel-sel tubuh dan sejumlah sel tubuh akan mati bersama dengan sel-sel kanker. Obat China ini bisa membedakan antara sel-sel tubuh yang sehat dari sel kanker yang berpenyakit dan hanya menyerang sel-sel yang sakit.

Terapi kemo pengobatan kanker kaya dengan efek samping

“Kelelahan, lesu, ogah-ogahan dan apatis”, hampir setiap pasien tidak akan gembira meskipun sudah menyelesaikan terapi awal yang merupakan salah satu dari siklus terapi kemo. Setelah berhasil bertahan terhadap pukulan diagnosa yang pertama, tiga terapi selanjutnya telah menunggu.

Pilihannya tidak menguntungkan, bila dipikirkan, contohnya, jaringan yang disinari sering kali meninggalkan bekas luka yang parah dan infeksi yang demikian rupa sehingga setelah itu hampir tidak ada dokter bedah yang berani mengoperasi pasien dengan pisau operasi. Selain itu, terapi kemo memiliki banyak efek samping seperti rambut rontok, selaput lendir terasa terbakar atau rasa mual. Ini semua adalah tantangan-tantangan yang tidak menyenangkan bagi pasien. Yang menghibur dalam hal ini, bila dilihat secara objektif, sekitar satu dari tiga pasien kanker berhasil menjalani jalan ini dan terobati dari penyakit kankernya.

Sementara itu penemuan ilmiah terbaru telah menghidupkan harapan, dengan menemukan obat kanker untuk menumpas sel-sel kanker yang sakit secara terarah, tanpa merusak sel-sel tubuh yang sehat. Dalam “Journal of Biological Chemistry“ disebutkan, pada 2009 Prof. Firestone untuk pertama kalinya memberitakan hasil-hasil penelitian baru. Hasil penelitian ini mengungkapan mekanisme molekular dari tanaman artemisia vulgaris dari Asia timur yang dapat memerangi senyawa kanker dengan efektif.

Sekelompok zat-zat anti kanker yang efektif dari bidang kedokteran di China kuno sedang diteliti kembali, sekarang menjadi titik fokus dari penelitian obat dan akan dikembangkan lebih lanjut untuk digunakan sebagai obat. Dua ilmuwan dari universitas Washington telah menemukan pengobatan potensi untuk melawan kanker dari obat rakyat manjur dari tradisi China kuno.

Perusahaan China Chongqing Holley Holdings dan anak cabangnya di AS menandatangani perjanjian kerjasama dalam bidang penelitian zat. “Kami sangat antusias dalam penemuan ini dan gembira dengan kemungkinan untuk mengembangkan sebuat obat anti kanker yang berbasis Artemisinin,“ kata Kevin ketua penelitian ilmiah di Holley. “Teknologi ini tampaknya sangat menjanjikan, tetapi masih pada tahap awal. Masih memerlukan proyek-proyek penelitian dan uji klinis lebih lanjut.” Perusahaan yang berkedudukan di Chongqing, China ini telah eksis selama tiga puluh tahun dengan penelitian tanaman Artemisinin dan merupakan pelopor di bidang penanaman, panen dan produksi dari hasil-hasil Artemesia, juga sehubungan dengan obat anti malaria yang berbasis Artemisinin, kata pihak yang berwewenang.

Potensi untuk melawan sel kanker secara terarah

Prof. Henry Lai dan Prof. Narendra Singh menemukan hasil dalam penelitian akan kegunaan zat-zat sampingan (derivat) dari Artemesia untuk melawan kanker payudara. Hasil penemuan ini menghasilkan kegunaan dari Artemisinin yang menakjubkan. Sebuah studi dalam jurnal Life Sciences tertulis tentang bagaimana derivatnya Artemesia membunuh semua sel-sel kanker payudara dalam waktu 16 jam di bawah kondisi laboratorium. Tidak hanya bahwa zat tersebut nampaknya sangat efektif, tetapi sangat selektif terhadap sel-sel kanker itu, kata Profesor Lai.

Tanaman obat kuno ditemukan baru untuk pengobatan kanker

Artimisia annua adalah tanaman obat legendaris pengobatan China, yang sekarang terutama digunakan untuk melawan malaria dan penyakit infeksi. Obat malaria yang sudah lama terkenal ini juga sangat efektif untuk pengobatan kanker. Di bawah kondisi laboratorium, zat ini menunjukan bahwa ia bisa membunuh sel-sel kanker dengan efektif.

Keunggulan zat ini yaitu pada saat percobaan diketahui bahwa zat tidak menyerang sel-sel kanker payudara yang sehat di sekitarnya. Obat-obat terapi kemo yang banyak digunakan sekarang mempunyai kelemahan serius, yaitu sangat beracun bagi sel-sel tubuh yang sehat dan dengan itu bisa menimbulkan efek samping yang serius.

Tetapi bagaimana zat tersebut bisa berhasil memilih sel-sel yang sakit dan menghancurkan sel-sel kanker ini? Profesor Henry Lai dari Universitas Washington, AS, menceritakan bagaimana penemuan obat ini, “Sel-sel kanker memerlukan banyak zat besi untuk memperbanyak DNA, bila mereka berkembang biak,” tutur Profesor Lai. Ini artinya bahwa sel-sel kanker harus diberikan konsentrasi besi yang lebih tinggi dari pada sel-sel normal. Ketika kami mulai mengerti mekanisme aksi dari Artimisinin, kami mulai bertanya-tanya, apakah kami tidak bisa menggunakan pengetahuan ini untuk menerapkan efek dari Artimisinin terhadap sel-sel kanker.“

Menyerang sel-sel dengan konsentrasi besi tinggi

Dari penelitian malaria telah diketahui bahwa konsentrasi besi tinggi juga ditemukan pada parasit-parasit malaria. Bila Artimisinin bersentuhan dengan besi, terjadi suatu reaksi kimia berantai, di mana banyak partikel-partikel kecil yang bermuatan terbentuk dan dinamakan radikal-radikal bebas oleh kimiawan. Radikal-radikal bebas ini memiliki keistimewaan yang mirip seperti asam klorida atau zat-zat agresif lainnya, yaitu menyerang molekul-molekul sekitarnya dan menghancurkan mereka. Demikian juga radikal-radikal bebas ini menyerang membran sel di parasit-parasit malaria dan membuat lubang-lubang di dalamnya, di mana dengan cara ini parasit-parasit malaria tersebut terbunuh.

Profesor Lai telah mendaftarkan paten dan mencari sponsor ide meningkatkan konsentrasi besi pada sel-sel kanker secara buatan. Profesor Lai ingin “memompa“ sel-sel kanker itu dengan zat besi dan menyusupkan Artimisinin ke dalam sel-sel secara terarah dan dengan ini mereka terbunuh.

Untuk mengambil lebih banyak zat besi, sel-sel kanker memiliki kepadatan reseptor lebih tinggi untuk protein transport besi, transferin. Reseptor-reseptor ini menangkap protein zat besi dari darah dan mengangkutnya ke dalam sel. Para peneliti menemukan kepadatan reseptor yang 15 kali lebih tinggi untuk protein transport besi trasferin, juga pada sel-sel kanker payudara yang diteliti.

Dengan kuda Trojan masuk ke dalam sel-sel kanker

Profesor Lai menerangkan, “Kami menamakan obat ini sebagai kuda Trojan, karena sel-sel kanker mengenali transferin sebagai protein alami yang tidak berbahaya dan menerima persatuan dari transferin dan artimisinin, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya di dalam transferin ini adalah bom untuknya – yaitu artimisinin ini. “Bila per-satuan ini sekali ada di dalam sel, zat besi bereaksi dengan artimisinin yang disusupkan dan merusak sel-sel itu. Dengan ini campuran antara transferin dan Artimisini adalah sangat beracun untuk sel-sel kan-ker dan bersamaan sangat selektif, karena sel-sel kanker membutuhkan zat besi yang sangat banyak. Sel-sel yang ada di sekitarnya tidak ikut rusak.

“Yang menarik pada zat ini, orang Tionghoa telah menggunakan zat ini sejak ribuan tahun,” ujar Profesor Lai. “Kami hanya menggunakannya di bidang lain.”

Hasil penyembuhan berkaitan erat dengan pasien

Selain itu, tanaman obat ini berasal dari repertoar jamu kuno China. Dalam pengobatan China kuno, hasil-hasil penyembuhan berkaitan erat dengan filosofi dan sikap melalui ajaran-ajaran China kuno dari pengobatan tradisional. Bila seseorang sekarang mencoba menggunakan resep-resep dari ilmu penyembuhan kuno ini, tanpa mengindahkan inti kejiwaannya, maka hasil-hasil penyembuhannya tidak bisa disamakan dengan hasil-hasil dari dokter-dokter China kuno.

Para dokter legendaris China seperti Hua Tuo, Bian Que atau Li Shizhen menilai seorang pasien tidak hanya berdasarkan penyakitnya. Sebaliknya mereka memperhatikan segenap pribadi orangnya dengan karakter, kebajikan dan sikap pada keseluruhan pengobatan mereka. Misalnya, bila seseorang dalam hidupnya selalu berjuang demi karir dan keuntungan pribadi, maka ia akan menjadi orang yang selalu sehat dan melihat penyakit sebagai noda, sebagai ketidakadilan dalam hidup. Menurut ajaran dari pengobatan China, orang seperti itu sulit disembuhkan.

Begitulah nampaknya hasil-hasil penyembuhan pada pasien perorangan yang juga berkaitan dengan gaya hidup dan sikapnya. Bila persoalannya mengembangkan obat kanker yang bisa menyembuhkan semua pasien dengan tidak tergantung dari karakter dan sejarah hidup mereka, bisakah segera ditemukan “senjata ajaib“ untuk setiap pasien dan untuk melawan segala jenis kanker, yang mungkin akan menunda penelitian kanker untuk di kemudian hari. Bahkan di ilmu kedokteran Barat hampir tidak ditemukan seorang Profesor yang percaya akan hal tersebut dari pengalaman pribadinya.

Kotak info: Penemuan kembali sebuah tanaman obat kuno

Penggunaan zat Artemisinin bukanlah barang baru. Sejak zaman kuno sudah ribuan tahun lamanya tanaman Artemesia digunakan untuk melawan sejumlah keluhan di China. Catatan tentang Artemesia sebagai obat sudah ada sejak dinasti Han pada abad ke dua sebelum masehi. Baru pada era 70-an ditemukan obat malaria di pengobatan barat. Pada zaman China kuno, Artemisinin menunjukkan efek yang begitu kuat terhadap malaria yang dulunya belum pernah diamati. (Peter Sanftmann/The Epoch Times/hq)

Mon Simbol Keluarga Jepang







Lambang Kekaisaran Jepang berdasarkan bunga krisan di Yasukuni Shrine di Tokyo

Lambang Kekaisaran Jepang berdasarkan bunga krisan di Yasukuni Shrine di Tokyo

Jepang - Mon atau Kamon, yang secara harafiah berarti "lambang keluarga," adalah logo-logo yang orang Jepang biasa gunakan untuk menunjukkan garis dan status suatu keluarga. Terdapat lebih dari 5.116 mon, dikategorikan ke dalam 241 macam.

Tidak seperti lambang keluarga Barat yang biasanya menampilkan simbol singa, naga, burung rajawali, dan makhluk lainnya yang biasanya menyimbolkan kekuatan, Mon cenderung menggunakan simbol tanaman, burung, bulan, dan sejenisnya. Mereka menampilkan bentuk yang lebih halus, disain feminin dan juga cenderung digunakan dengan bebas di antara orang kebanyakan.

Asal Mula dan Sejarah

Sebagai sebuah simbol sederhana yang mewakili sebuah keluarga, Mon telah banyak menghiasi gua-gua, pakaian dan peralatan. Bagaimanapun juga, secara luas telah dipercaya bahwa asal asul Kamon yang sebenarnya berawal dari periode Zaman Heian*) (tahun 794-1185). (Heian sendiri secara harafiah berarti perdamaian dan keamanan) Beberapa pelayan dari golongan bangsawan mulai meletakkan "lambang keluarga" mereka pada karoseri gerobak sapi mereka untuk membedakannya dari pelayan keluarga-keluarga lainnya.

Setelah periode Heian yang relatif berlangsung damai, prajurit daerah yang dulu biasanya bekerja dibawah kekuasaan golongan bangsawan untuk memungut pajak dari para petani, melibatkan diri dalam politik di Ibukota Kyoto. Mereka membangun sendiri kekuatan politik, mengawali prajurit masa pertengahan.

Pembentukan prajurit pemerintahan sendiri di Kamakura menandai awal berdirinya periode Kamakura (1185-1336). Lalu mon menjadi simbol penting pada pakaian baja dan bendera guna membedakan musuh dan kawan.

Selama periode peralihan Muromachi (1336-1573) antara periode prajurit dan era Shogun yang bertahan lama, pakaian upacara adat Reifuku menjadi populer di mana mengenakan lambang kecil keluarga di belakang mantel dan di bawah leher, menjadi hal yang cukup penting.

Suatu waktu ketika Jepang dipersatukan oleh pemerintahan Tokugawa Shogun yang telah berjalan selama lebih dari 200 tahun dan sering disebut zaman Edo (1603-1867) tanpa ada perang maupun intervensi pihak luar.

Para aktor dan pelacur, yang dianggap sebagai orang "trend" pada masa itu, mulai menggunakan hiasan mon pada Kimono mereka; dan konsepnya kemudian menyebar luas ke khalayak umum. Tidak ada konotasi feodalisme di sini, dan para perancang busana yang berspesialisasi membuat Mon menjadi sangat populer, mengawali kebudayaan penggemar emblem yang tak ada satu pun didunia saat itu.

Penggunaan di zaman moderen

Berbagai Jenis Mon

Berbagai Jenis Mon

Di zaman Jepang yang moderen, Anda akan menemui Kamon pada pemakaman dan pernikahan.

Bagaimanapun juga, orang Jepang pada masa moderen sekarang tidak membatasi Mon sebagai sebuah simbol peninggalan keluarga, namun juga memiliki kesenangan ketika menggunakan mereka untuk menciptakan sebuah identitas pribadi.

Mereka boleh saja menggunakannya untuk menghiasi kartu nama mereka untuk identitas mereka sendiri, atau sebagai sticker dengan gaya tulisan Zaman Edo. Sama seperti orang suka menaruh mereka di belakang pakaian kimono mereka, para remaja menggunakan T-shirt dengan Mon.

Beberapa Jenis Mon:

Chrysanthemum (Bunga Krisan)

Kesembilan bulan melambangkan bulan bunga krisan pada kalender kuno dan pada 9 September, orang Jepang merayakan festival bunga krisan, mengharapkan kebahagiaan. Seperti dikatakan bahwa Keluarga Kerajaan mengadaptasi Mon ini sebagai kelopak-kelopak bunga krisan menyerupai matahari yang bersinar.

Mon kerajaan memiliki 16 daun bunga dengan dobel kelopak bunga, ketika Mon digunakan sebagai paspor orang Jepang dan lencana yang digunakan oleh anggota Parlemen adalah kelopak bunga tunggal.

Padi

Di dalam surat gulungan kuno, terdapat catatan tentang sebuah tempat suci yang secara resmi menggunakan nama keluarga Hozumi, yang berarti setumpuk beras, tempat untuk mempersembahkan hasil panen beras suatu keluarga.

Bunga Ceri

Terdapat lebih dari 100 jenis mon ceri, sebuah fakta yang menunjukkan ketenaran bunga ini dalam masyarakat Jepang.

Bulan dan Bintang

*) Zaman Heian (794 - sekitar 1185) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, dimulai dari tahun 794 ketika Kaisar Kanmu memindahkan ibukota ke Heian-kyo hingga dibentuknya pemerintah Keshogunan Kamakura sekitar 1185.


Metode Amputasi Eksis pada Jaman Batu







Amputasi Jaman Batu: Sejumlah ilmuwan menemukan bukti kecanggihan amputasi pada jaman batu dalam kerangka ini. (Courtesy of Antiquity Journal)

Dokter-dokter pada Jaman Batu terbukti lebih maju dibandingkan bayangan kita sebelumnya.

Dengan ditemukannya bukti baru operasi pembedahan yang dilakukan sekitar 7.000 tahun lalu, kini kemajuan ilmu kedokteran Jaman Batu menjadi semakin jelas.

Temuan ini juga memperjelas kemajuan pengetahuan medis pada 4.900 SM, dengan ditemukannya sejarah pembedahan dan perkembangannya.

Pada situs Neolitik yang digali pada 2005 lalu, di Buthiers-Boulancourt, 40 mil selatan Paris, para ilmuwan menemukan sebuah kerangka orang tua 7.000 tahun. Beberapa pengujian menunjukkan bahwa ia pernah menjalani amputasi dengan menggunakan batu tajam untuk memotong tulang humerus diatas tekukan trochlea.

Sangat mengesankan, pasien bahkan dibius. Anggota badan yang dipotong terlihat bersih dan luka dirawat dalam kondisi steril. Bedah tengkorak adalah hal biasa yang dilakukan para dokter Jaman Batu. Namun tentang amputasi belum pernah terdengar hingga saat ini.

Menurut sebuah makalah penelitian yang diterbitkan Antiquity Journal, pemeriksaan makroskopik menunjukkan tidak terjadi infeksi setiap kali dilakukan amputasi. Hal ini sebagai pertanda apa yang telah dilakukan dalam kondisi relatif steril.

Para ilmuwan menemukan bahwa pasien ini selamat setelah menjalani operasi, meskipun ia menderita akibat osteoarthritis. Namun pasien dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sesudahnya.

Menurut Daily Mail, peneliti Cécile Buquet-Marcon, mengatakan bahwa tanaman yang kemungkinan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit adalah Datura, dan tanaman lain seperti Sage kemungkinan digunakan untuk membersihkan luka.

Hilangnya lengan bawah pasien ini bukan karena ia dikucilkan dari masyarakat. Kuburannya berukuran lebih dari 6,5 kaki dan berisi sebuah kapak batu tulis, batu api dan seekor hewan muda, yang mengindikasikan orang ini dari tingkat sosial tinggi. (EpochTimes/ sua)