Senin, 22 November 2010

Misteri Ruang dan Waktu







Sebuah teori Einstein menyatakan bahwa konsep ruang waktu dan energi materi bukanlah dua kesatuan yang terpisah sama sekali. (blogdetik.com)

Kembali ke masa lalu adalah hal paling mustahil untuk dilakukan, namun secara teoritis kembali ke masa lalu bukan tidak mungkin.

Teori Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu.

Sebuah teori Einstein menyatakan bahwa konsep ruang waktu dan energi materi bukanlah dua kesatuan yang terpisah sama sekali. Keduanya bisa terjalin dalam keadaan tertentu. Dan kalau itu benar-benar terjadi, tidaklah mustahil benda bisa muncul dan lenyap secara mendadak, seakan-seakan mengalami proses dematerialisasi. Di mana proses pelenyapan pesawat terbang, kapal dan lainnya di Segitiga Bermuda tidak lain karena peristiwa ini.

Pada tahun 1994 sebuah pesawat sipil Italia terbang di pantai Afrika. Tiba-tiba operator di ruang kontrol mengatakan bahwa pesawat menghilang.

Ketika semua orang panik, pesawat tersebut nampak kembali di layar radar. Pesawat itupun mendarat dengan selamat di bandara Italia, namun pilot dan 315 penumpang tidak mengetahui insiden hilangnya pesawat tersebut.

Ketika diperiksa oleh setiap penumpang di bandara, mereka ternyata terlambat sekitar 20 menit. Meskipun insiden seperti ini jarang ditemukan namun pada 1970, jet 727, dijelaskan juga sempat menghilang sekitar 10 menit dalam penerbangannya ke bandara Miami. Para penumpang tidak mengetahui apa yang terjadi. Akan tetapi mereka tahu setelah mereka melihat jam mereka terlambat 10 menit.

Koin Modern Ditemukan pada Kuil Kuno

Misteri kembali ke masa Mesir kuno 4.000 tahun.

Sebuah koin perak peradaban modern yang belum pernah beredar, terkubur pada dasar patung dewa matahari.

Ketika tim arkeolog Perancis sedang melakukan penelitian ilmiah di sungai Nil. Pada saat menggali reruntuhan, para arkeolog menemukan koin perak yang terkubur di dalam reruntuhan itu.

Namun anehnya, koin tersebut bukan koin Mesir akan tetapi koin Amerika. Yang lebih aneh lagi, koin itu bukan peninggalan Amerika kuno namun koin bangsa Amerika masa kini.

Koin tersebut senilai 25 sen belum dipublikasikan dan masih disimpan pada Bendahara Negara Amerika Serikat. Mengapa koin itu ditemukan di kuil tersebut, para ilmuwan juga merasa kebingungan.

Sebuah Laporan Rahasia NATO

Pada 1982, dalam pelatihan terbang di Eropa Timur, seorang pilot melihat ratusan dinosaurus di depan matanya, dan dengan tiba-tiba pilot itu sampai di daratan Afrika prasejarah. Seorang pilot juga mengalami hal yang sama namun ia kembali ke perang Jerman selama perang dunia II. Terjadi hanya dalam satu menit merekapun kembali ke dunia realita.


Dalam buku Zhuan Falun karangan Mr. Li Hongzhi tertulis, "Di atas langit baru satu hari, sedang di Bumi sudah seribuan tahun". Hal ini merupakan kebenaran yang berpijak pada kebijakan. (Erabaru/sua/sum)

Spesies Baru Hutan Papua Nugini







Kelelawar Yoda dari pegunungan Muller Range, Papua Nugini. (Piotr Naskrecki/iLCP/Conservation International)

Kelelawar 'Yoda' dan 200 spesies tanaman serta hewan baru lainnya ditemukan oleh sejumlah peneliti yang bekerja di hutan tropis Papua Nugini. Kelelawar spesies baru ini diberi nama sama dengan Star Wars Jedi, Yoda.

Sejumlah temuan baru tersebut yaitu, kelelawar hidung pipa-Yoda, laba-laba oranye dan kodok seukuran kuku jari diresmikan oleh kelompok Konservasi Internasional yang berpusat di AS. Kelompok ini menemukan berbagai hewan dan tumbuhan ini pada tahun 2009.

Dua puluh empat spesies kodok baru, beberapa spesies laba-laba dan serangga serta sejumlah tanaman jenis baru telah ditemukan di hutan terpencil dekat Nakanai dan pegunungan Muller.

"Ketika kami mendaratkan helikopter di padang rumput pegunungan, mengarahkan lebih dekat pada pemandangan spektakuler ini adalah realitas luar biasa bahwa tidak ada seorang ilmuwanpun yang pernah datang sebelumnya," ujar Stephen Richards, pakar herpetologi dalam sebuah pernyataan.

Richard dan sejumlah rekannya terbang menggunakan sebuah pesawat kecil ke sebuah landasan terpencil untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu sampan, berjalan kaki hingga selanjutnya mereka dijemput dengan menggunakan helikopter untuk mencapai tujuan mereka.

"Perjalanan begitu sulit sehingga tim harus mengirimkan semua makanan dan peralatan ke lokasi lebih awal," ujar kelompok tersebut.

Pegunungan Nakanai belum lama ini telah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO oleh pemerintah Papua Nugini. Bagaimanapun juga, kelompok konservasi itu mangatakan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menyelamatkan hutan-hutan di wilayah ini.

"Berdiri di atas Pegunungan Nakanai, saya dapat melihat perkebunan kelapa sawit yang membentang dan menjulur hingga ke pantai," ujar Richards.

"Ini mengejutkan saya, betapa banyak hutan telah lenyap menjadi ladang minyak sawit. Untunglah keterjalan dataran tinggi telah membatasi kehancurannya, namun apabila orang-orang mulai membangun ruas-ruas jalan, wilayah ini akan lebih mudah diakses." (EpochTimes/sua)

Kembalinya Sejarah Perburuan Elang Kuno Kazakhstan







alt

Pemburu Kazakh mengenakan pakaian nasional sambil memegang elang emas saat festival berburu Solburun. (AFP/Getty Images)

Chengelsy Gorge - Ketika salju turun di padang rumput Kazakhstan, pemburu mencongklang pelana dan pergi dengan elang di lengan mereka siap berburu mangsa.

Para pemburu mengikuti jejak hewan yang tertinggal di salju kemudian melepaskan elang raksasa mereka ke udara untuk menangkap rubah dan kelinci.

"Berburu adalah hidup saya," kata Baurzhan Yeshmetov, pria berusia 62-tahun dalam balutan beludru bersulam tunik, dengan seekor elang bertengger di lengannya sedang menatap tajam ke arah bukit-bukit berkabut.

"Elang ini adalah hidupku," tambah Yeshmetov yang, jika tidak berburu, bekerja sebagai sopir taksi di pusat keuangan Almaty di Kazakhstan.

Banyak orang di Kazakhstan menganggap perburuan elang sebagai simbol bangsa nomaden mereka di masa lalu dan sebuah nostalgia ke masa remaja sebelum padang rumput ini berubah menjadi medan pertempuran geopolitik antara kekuatan regional yang bersaing, Rusia dan China.

Dua dekade pertumbuhan ekonomi yang mengikuti kemerdekaan Kazakhstan dari kekuasaan Moskow pada tahun 1991 juga telah menciptakan generasi muda masyarakat Kazakh yang mencari identitas baru yang telah mendorong mereka untuk menggali sejarah lebih dalam.

"Pada masa-masa Soviet berkuasa semua kejadian ini menjadi terlupakan karena semua orang harus percaya pada komunisme," kata Dinara Serikbayeva yang memiliki museum perburuan elang di desa Nura.

Berbicara di Gedung Kebudayaan yang dibangun di masa Soviet di mana para pejabat pernah menatar penduduk desa mengenai pendekatan gambaran akan surga komunis, ia mengatakan perburuan elang telah berubah menjadi simbol baru atas identitas.

"Anak-anak menganggap hal ini menarik. Ini merupakan bagian penting dari leluhur nomaden kami dan kami sangat bangga karenanya."

Berburu sebagai Identitas

Disebut berkutchi dalam bahasa Kazakh, jumlah pemburu elang profesional hanya sekitar 50 di Kazakhstan — bangsa besar yang telah menggunakan kekayaan minyaknya untuk mengubah diri dari keterbelakangan setelah dijajah Soviet menjadi masyarakat konsumen moderen.

Mereka sering berkumpul di bukit-bukit es di perbatasan Kazakh dengan China — jauh dari kota-kota seperti Almaty, yang dipenuhi mobil mewah dan kafe-kafe wifi — untuk menentukan elang mana yang terbaik.

Elang Kazakh adalah salah satu binatang terganas di dunia, dengan lebar sayap sekitar 16.5 meter, dilengkapi cakar tajam dan kemampuan menyelam dengan kecepatan kereta ekspres - hingga 190 mph.

Selama turnamen 5 Desember, sejumlah juri mengawasi dengan wajah tanpa senyum dari puncak bukit bersamaan dengan para pemburu, dengan memakai topi bulu rubah, melepaskan tali dan melepaskan elang ke udara.

Penduduk desa mempersiapkan daging asap di atas papan barbeque, pengeras suara mengumandangkan lagu-lagu rakyat, dan wisatawan dengan teropong dan perlengkapan lampu malam menatap heran.

Sebagian besar perburuan elang dilarang selama pemerintahan Soviet dan tradisi ini akan lenyap sama sekali seandainya tidak dilestarikan oleh etnis Kazakh di China dan Mongolia.

Lebih dari satu juta masyarakat Kazakh mengambil keterampilan untuk kuburan mereka selama bencana kelaparan Soviet menimpa di tahun 1930-an ketika kampanye pengambilan paksa Josef Stalin membabat habis seluruh desa di Kazakhstan, Ukraina dan Rusia.

"Kelaparan, penindasan, perampasan. Orang-orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan elang mereka," kata Yepemes Alimkhanov, seorang pejabat pemerintah yang bertanggung jawab menghidupkan kembali kegiatan olahraga nasional.

"Ini adalah sebuah tragedi. Tapi tradisi akan datang kembali. Kami telah mewarisi tradisi pada putra dan putri kami," katanya.

Jumlah elang terlatih di desa Nura sendiri tumbuh menjadi 30 ekor dari sebelumnya dua ekor sejak 1990. Memang, segala sesuatu yang terjadi di Nura tampaknya berkisar pada tradisi. Bahkan halte bus desa terdapat mosaik besar berbentuk elang terbang.

Jumlah elang terlatih di desa Nura sendiri tumbuh menjadi 30 dari hanya dua sejak tahun 1990. Memang, segala sesuatu dalam Nura tampaknya berkisar pada praktek. Bahkan halte bus desa olahraga mosaik besar elang terbang.

Pada malam kompetisi baru-baru ini, para keluarga berkumpul di dalam pondok-pondok mereka untuk pesta makan, menyajikan hidangan nasional berupa daging kenyal dan adonan berminyak. Mereka berbicara tentang elang.

"Tahun ini tentu saja tidak ada yang punya uang, ini adalah masa krisis," kata Bagdat Muptekekyzy, seorang penyelenggara turnamen. "Sulit memang. Tapi kita akan melakukan apa saja untuk menjaga pemburu kami menerbangkan elang mereka." (rtr/ val)