Senin, 22 November 2010

Pengobatan Tradisional China







Memeriksa denyut nadi adalah teknik diagnosis yang biasa digunakan dalam Pengobatan Tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM). (SCREENSHOT)Suatu seni penyembuhan yang telah dikenal lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Pengobatan Tradisional China (TCM) dan sejarah makanan di China sangat erat kaitannya. Secara tradisional, masyarakat China menghubungkan konsumsi makanan tertentu untuk fungsi tubuh tertentu. Budaya dan filosofi China menyatakan bahwa fungsi tubuh, makanan yang dikonsumsi seseorang, dan bagaimana penyakit diobati berkaitan erat dengan lingkungan seseorang.

Seorang tabib yang mempraktekkan TCM mencari tanda-tanda ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan dalam lingkungan internal dan eksternal pasien untuk memahami, merawat, dan diharapkan dapat mencegah penyakit. Bentuk pelayanan kesehatan ini telah berkembang selama ribuan tahun, berakar kuat pada sistem kepercayaan kuno, termasuk konsep-konsep spiritual tradisional.

Filosofi pengobatan semacam itu berdasarkan teori Yin dan Yang, lima elemen, delapan prinsip, teori Zang Fu (teori yang menguraikan tentang fungsi fisiologis dan perubahan patologis dari organ dalam dengan fokus utama pada fungsi fisiologis organ dan jaringan somatik), dan sistem meridian tubuh.

Seorang praktisi TCM yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan herbal, terapi makanan, akupunktur, moxibustion (memanaskan moxa –substansi berbulu halus yang diperoleh dari daun kering– di dekat lokasi atau di titik tertentu sebagai kontra iritant), cupping atau kop (melancarkan darah dengan memanaskan gelas kaca atau gelas plastik yang diletakkan di titik-titik tertentu –umumnya di punggung– hingga mendapatkan tekanan hampa udara), atau chiropractic (pengobatan yang menitikberatkan pada diagnosis, perawatan dan pencegahan penyimpangan mekanisme terutama pada tulang belakang) mungkin dapat menggunakan satu, atau sebagian, atau bahkan semua metode perawatan agar sembuh.

Pada kasus saya sendiri, penggunaan campuran herbal China selama perjalanan ke luar negeri dapat menyembuhkan batuk yang membandel – dan tidak kambuh lagi selama hampir sepuluh tahun! Antibiotik, obat yang diresepkan dokter Barat, tidak dapat melakukan apa pun untuk menyingkirkan batuk saya.

Hingga saat ini praktek TCM masih menjadi andalan sistem pengobatan masyarakat China, bersama dengan praktek kedokteran modern Barat. Sebelum abad ke-19, dokter China dan Barat sama sekali tidak mengetahui tentang bakteri penyebab infeksi.

Praktisi medis Barat dan China kemudian bergantung terutama pada pengamatan dan pengalaman untuk melawan invasi bakteri yang berbahaya; pemahaman tentang “teori kuman” baru dimungkinkan setelah abad ke-20. Di abad ke-21, ahli TCM telah mencapai hasil yang terpercaya dalam memerangi efek kemoterapi pada pasien kanker, pecandu narkoba, dan pengobatan kondisi kronis, seperti diabetes dan penyakit ginjal tertentu serta memberantas malaria dengan tanaman Artemisia.

Praktisi TCM terus menempa keahlian mereka, dalam hubungannya dengan praktek kedokteran Barat. Wacana ini dipublikasikan dalam laporan Victoria / Australia yang menyatakan, “Lulusan TCM mampu mendiagnosis penyakit dalam istilah kedokteran Barat, meresepkan obat-obatan Barat, dan melakukan prosedur pembedahan kecil. Akibatnya, mereka membuka praktek TCM sebagai suatu keahlian dalam spektrum pengobatan kesehatan China dengan kerangka yang lebih luas.” (http://www.health.vic.gov.au/archive 2006) Namun, prinsip dasar seni penyembuhan ini didasarkan pada beberapa aliran filsafat.

TCM berakar pada Taoisme, Buddha, dan Neo-Konfusianisme. Pelajar China dari segala macam bidang selama 3.000 tahun terakhir (dari 1200 SM sampai sekarang) telah fokus pada hukum alam semesta yang nampak dan bagaimana mereka mengimplikasikan posisi manusia dalam alam semesta. Sastra klasik China seperti I Ching dan Spiritual Tao, dan beberapa sastra lain, menghubungkan prinsip-prinsip alam semesta dengan kesehatan dan penyembuhan.

Salah satu pertimbangan utama adalah: manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan alam semesta; keseimbangan dan kesehatan yang optimal merupakan hasil dari interaksi harmonis antara kejadian alam semesta dan perubahan selanjutnya, segala sesuatu di alam semesta ini pada akhirnya saling berhubungan. Mengingat hal tersebut, tidak perlu susah payah membayangkan jika tubuh manusia merupakan perwujudan dari alam semesta kecil, dengan satu sistem interkoneksi yang utuh, lengkap, dan canggih. Dengan demikian, ahli TCM akan selalu menggunakan pendekatan holistik dan cermat untuk menghindari kerugian pasien.

Perusahaan farmasi Barat mulai mengakui nilai TCM dan merekrut tim ilmuwan untuk melakukan studi double blind (suatu studi dimana peneliti maupun objek penelitian sama-sama tidak mengetahui obat mana yang digunakan) yang mahal di beberapa belahan dunia untuk mengumpulkan beragam jenis tumbuhan obat dan pengetahuan dari praktisi tradisional China. Perusahaan farmasi sangat menyadari bahwa senyawa yang paling banyak digunakan dalam pengobatan modern berasal dari tanaman, atau dalam beberapa kasus, berasal dari binatang.

Di China modern, kepercayaan terhadap TCM sangat kuat, meskipun seseorang lebih menyukai berkonsultasi dengan dokter Barat jika patah kaki atau usus buntu pecah, namun kemudian dilanjutkan dengan latihan China tradisional untuk meningkatkan kesehatan, meminum ramuan tradisional China, dan mengonsumsi makanan China yang tepat untuk tetap sehat setelah krisis telah berlalu.

Hal ini juga perlu diperhatikan bahwa setidaknya di kota-kota besar di China, seorang praktisi TCM modern akan merujuk pasiennya ke fasilitas medis Barat jika sistem pasien terlalu “tidak seimbang” untuk diobati melalui pengobatan tradisional China. Namun hal ini tidak dapat menghalangi saya mengutip beberapa peribahasa China, “Sebuah obat populer yang belum dicoba sering membuat histeris dokter ilmiah. Dokter yang tidak perhatian tidak lebih baik dari seorang pembunuh. Dokter tingkat rendah merawat penyakit yang sudah timbul, dokter tingkat medium merawat penyakit yang akan datang, sedang dokter yang unggul dapat mencegah datangnya penyakit.”

Seharusnya kita merasa beruntung memiliki dokter yang unggul dalam hal pencegahan penyakit daripada mengobati setelah menderita penyakit. (Secret China/feb)

Kodok Predator Afrika







Bull frog raksasa Afrika saat sedang memangsa tikus. (SPL/Mark abbott/Barcroft Med)

Seekor tikus menemui ajal ketika melintasi jalur keserakahan Bull Frog Afrika.

Hewan raksasa berbintik hijau ini memiliki kebiasaan memangsa hewan besar, bahkan hewan pengerat sekalipun juga menjadi sasarannya.

Karnivora ampibi ini memiliki temperamen agresif, dapat melompat hingga 12 kaki dan memiliki gigi seperti proyeksi yang disebut odontoids, yang dikatakan terasa seperti pecahan kaca ketika hewan buas ini menyobek dengan menutup rahang mereka.

Petugas kebun binatang Newquay Zoo, Dan Garrick adalah pakar dalam memberi makan katak serakah ini.

"Hewan ini merupakan kelompok predator kodok raksasa yang hanya diam dan menunggu mangsanya melintas," ujar Dan (30).

Dengan dipancing oleh gerakan kodok ini akan dengan cepat menyerang mangsanya yang melintas, termasuk tikus.

Tikus akan mati lemas bahkan sebelum sampai pada pencernaannya.

Jika mangsa terlalu besar, kodok ini kembali memuntahkannya dan menunggu mangsa berikutnya.

Meskipun ia memiliki kebiasaan makan yang buruk mereka adalah orang tua yang setia dan akan menjaga telur dan kecebong mereka dari predator.

Mereka bahkan menggali kolam untuk memastikan anak-anak mereka tidak kekeringan.

Kodok raksasa Afrika atau yang dalam bahasa latin disebut Pyxicephalus Adspersus, biasanya memangsa serangga, tikus, burung, bahkan diketahui juga menjadi kanibal dengan mamangsa katak lainnya.

Seekor kodok jenis ini beratnya dapat mencapai dua kilogram, dengan panjang 24 cm dan tumbuh dari kokon kedap air untuk menghindari diri dari kekeringan akibat sinar matahari Afrika yang tak

Kodok Afrika dapat ditemukan di Afrika bagian selatan, tengah dan timur. Dan yang ukurannya paling besar dapat dijumpai di Kamerun.


Misteri Penciuman Ikan Hiu




Hiu menggunakan 'penciuman stereo' untuk mendeteksi bau. (Alami)

Ikan hiu dapat mencium setetes darah dalam lautan yang jauhnya hingga seperempat mil.

Kini, misteri bagaimana persisnya ikan hiu menggunakan penciumannya yang manakjubkan untuk menemukan mangsanya telah terpecahkan.

Para peneliti telah menunjukkan bahwa hidung hiu menggunakan "penciuman stereo" untuk mendeteksi - tidak lebih dari setengah detik - dari waktu yang dicium untuk menjangkau salah satu lubang hidung.

Sebuah penelitian baru menunjukkan, ketika para pemburu ini mengalami keterlambatan, mereka akan berputar ke berbagai arah menuju bau pertama.

Temuan ini diterbitkan dalam Current Biology - yang membantu memecahkan salah satu misteri dari ikan hiu yang lama tak terpecahkan.

Para ilmuwan Universitas South Florida mengumumkan temuan mereka setelah melakukan uji laboratorium pada delapan hiu kecil dan satu hiu abu-abu.

Ketua peneliti Dr. Jayne Gardiner menggunakan tutup kepala yang terdiri dari dua tabung pada ikan hiu dalam sebuah bak yang berisi 50 liter air laut, kemudian menyuguhkan cumi-cumi yang telah diasinkan ke masing-masing lubang hidung ikan hiu secara bergantian.

Ia menemukan bahwa ikan itu bertumpu pada kombinasi petunjuk arah - berdasarkan aroma dan aliran air - untuk berorientasi serta menemukan apa yang mereka cari.

Jika keterlambatan di antara aroma mencapai satu lubang hidung satu dengan yang lainnya - antara sepersepuluh setengah detik, hiu itu akan memutar kepalanya pada sisi pertama kali ia mencium bau cumi tersebut.

"Jika seekor hiu mengalami keterlambatan dalam mendeteksi aroma atau keterlambatan berlangsung lama - sedetik atau lebih - mereka sepertinya hanya akan berputar ke kiri dan ke kanan," ujar juru bicara para ilmuwan.

"Hasil ini menyangkal anggapan umum bahwa hiu serta hewan lainnya mengikuti jejak aroma berdasarkan perbedaan konsentrasi molekul satu lubang hidung. Tampaknya teori tersebut tidak masuk akal ketika salah satu fisiknya dianggap bermasalah."

Dr. Gardiner mengatakan, "Terdapat satu pendapat yang sangat meluas bahwa hewan itu menggunakan konsentrasi untuk mendeteksi bau."

"Kebanyakan hewan dilengkapi dengan dua sensor penciuman - hidung atau antena. Sebagai contoh dan telah lama diyakini bahwa mereka membagikan konsentrasinya pada setiap sensor kemudian berputar ke arah samping saat menerima sinyal yang paling kuat."

"Namun ketika bau itu tersebar mengikuti aliran air atau udara, pernyebaran ini sangat kacau."

Seperti mencurahkan perhatian pada hiu, temuan tersebut kemungkinan juga dapat diarahkan pada robot bawah air yang siap menemukan sumber kebocoran kimia, seperti tumpahan minyak yang kini sedang menggenangi Teluk Meksiko, menurut para peneliti.

"Temuan ini dapat diterapkan pada kemudi bawah air," ujar Dr. Gardiner.

"Robot-robot sebelumnya diprogram untuk melacak bau dengan membandingkan konsentrasi bau namun mereka tidak akan memfungsikan sebaik atau secepat binatang hidup."

Dengan adanya tumpahan minyak di Teluk Meksiko, genangan minyak utama dengan mudah dilihat dan sumber utama mudah ditemukan, namun kemungkinan terdapat sumber lain yang menjadi penyebab kebocoran kecil yang belum ditemukan.

Organ-organ pencium dalam hidung beberapa hiu mampu mendeteksi satu tetesan darah dalam satu juta tetes air laut. (Daud Derbyshire/DM/sua)