Jumat, 17 Desember 2010

Otak kecoak sediakan antibiotik

Otak kecoak sediakan antibiotik
Otak kecoak memproduksi antibiotik yang bisa membunuh bakteri yang mematikan bagi manusia, seperti Staphylococcus aureus (MRSA) dan Escherichia coli. Demikian temuan para ilmuwan pada awal September ini. Dua spesies belalang juga sudah diteliti dan memiliki antibiotik yang serupa. Dunia serangga, yang mengisi 80 persen dari seluruh fauna, didapati memiliki antibiotik baru.

Penemuan ini sangat penting, menurut Simon Lee dari Universitas Nottingham, Inggris. "Selama ini para ilmuwan sudah mencari ke sana ke mari untuk mengobati berbagai penyakit menular, termasuk MRSA dan E. coli, yang tahan terhadap antibiotik tradisional," kata Lee.

Otak kecoak, yang menurut Lee baunya seburuk rupanya, memiliki mekanisme yang cerdas untuk membunuh bakteri. Lee dan rekannya meneliti sembilan tipe molekul yang ada di dalam otak kecoak. Mereka mendapati kalau setiap molekul memiliki tugas untuk membunuh tipe bakteri tertentu. "Mekanisme yang sangat cerdas, membuat serangga bisa hidup di lingkungan yang paling kotor," kata Lee.

Antibiotik dari serangga ini belum akan ada dalam waktu dekat, menurut Lee, tapi temuan ini merupakan cahaya terang yang memberi harapan. Sebabnya, ketika para ilmuwan mencoba menambahkan antibiotik serangga ke sel manusia, tak ada efek beracun.

Sumber: National Geographic News
Foto: sxc.hu

Berbeda: kanker paru-paru perokok dan bukan perokok

Penelitian terbaru menemukan adanya perbedaan antara penyakit kanker paru-paru para perokok dan orang-orang yang tidak merokok.

Penelitian tersebut dipresentasikan dalam konferensi Frontiers in Cancer Prevention Research, yang diadakan oleh American Association for Cancer Reseach pada Selasa (8/11) lalu.

Seperti dikemukakan Kelsie Thu dari BC Cancer Research Center Canada pada MyHealthNewsDaily, ada hampir dua kali lebih banyak kecenderungan perubahan DNA dalam tumor orang yang pernah merokok dibandingkan dengan tumor pada orang yang tidak merokok. Artinya, kanker pada perokok dan bukan-perokok dapat dibedakan.

Orang bukan perokok memiliki lebih banyak mutasi pada sebuah gen yang tugasnya melakukan penyandian molekul bernama reseptor faktor pertumbuhan epidermal (epidermal growth factor receptors atau EGFRs), yang menerima sinyal di membran sel. Dan mutasi EGFR bukan satu-satunya mutasi.

Peneliti juga menemukan lebih banyak perubahan wujud di genom nonperokok daripada genom perokok. Oleh karena itu, kemungkinan besar kanker tumbuh melalui jalur molekular yang berbeda.

Menurut Thu, "Untuk bukan perokok mungkin (penyebabnya) menunjuk pada karsinogen, bukan dari rokok, sebab tumor mereka, yang kemudian berkembang menjadi kanker paru-paru, dipicu oleh alterasi DNA."

Hasil ini sesuai dengan penemuan sebelumnya, yakni di antaranya review dalam jurnal Nature 2007 dan review dalam Journal of Thoracic Oncology.

Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi penemuan ini. Namun sangat mungkin variasi DNA yang ditemukan dapat diaplikasikan menuju pengobatan demi melawan masing-masing tipe kanker itu.

"Dengan melakukan pengembangan dari apa yang diketahui mengenai kanker paru-paru pada orang bukan-perokok, hasilnya dapat membantu kita lebih mengerti, terutama mengarah pada peningkatan diagnosis dan stretegi pengobatan," ungkap Thu.

Berikutnya, Thu berkata, penemuan bisa ditegaskan dengan menginvestigasi berbagai gen di tumor paru-paru lainnya, untuk mencari variasi pola yang sama.

Sumber: Live Science

Efek ganda vitamin E terhadap stroke

Vitamin E ternyata bisa meningkatkan risiko suatu jenis stroke sekaligus menurunkan risiko stroke lainnya. Demikian hasil penelitan sebuah lembaga Inggris, British Medical Journal (BMJ).

Penelitian yang dirilis BMJ pada 4 November, menemukan bahwa vitamin E dapat meningkatkan risiko stroke dengan jenis haemorrhagic hingga 22 persen. Satu dari 1.250 orang yang mengonsumsi vitamin E dapat berisiko terkena jenis stroke ini. Namun, tidak dijelaskan pada level berapa vitamin ini berbahaya.

Haemorrhagic adalah kasus yang jarang ditemukan. Stroke ini terjadi saat pembuluh yang menyuplai darah ke otak pecah dan menyebabkan kerusakan otak.

Hasil penelitian BMJ menunjukkan vitamin E dapat mengurangi risiko stroke jenis ischaemic hingga 10 persen. Berbeda dengan haemorrhagic, ischaemic adalah salah satu jenis stroke yang sering terjadi. Sebanyak 70 persen kasus stroke yang terjadi adalah stroke jenis ini, stroke yang terjadi saat penggumpalan menghambat suplai darah ke otak.

Menurut Prof. Dr. dr. Hasbullah Thabrani dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, hubungan risiko stroke dan vitamin E terkait dengan karakteristik vitamin itu sendiri. "Pada dasarnya, vitamin E itu meningkatkan kekentalan darah. Jadi, saya rasa itu masalahnya," kata Hasbullah.

Dia menekankan sebaiknya hanya orang-orang yang benar-benar membutuhkan yang mengkonsumsi vitamin E tambahan. “Jadi masalah adalah kalau berlebihan. Di Indonesia, banyak iklan yang menunjukkan vitamin E seolah-olah sangat diperlukan, membuat kulit bagus dan sebagainya. Konsumsi tambahan vitamin E perlu konsultasi dengan dokter," jelas Hasbullah. Ia juga menambahkan kalau vitamin E tidak dibuang oleh tubuh. "Hanya vitamin C dan D yang dibuang tubuh melalui urin ketika terlalu banyak dikonsumsi."

BMJ pun menyarankan vitamin E dikonsumsi dengan hati-hati. “Mengingat pengurangan risiko ischaemic cukup kecil dan hasil relatif lebih parah ketimbang haemorrhagic, penggunaan bebas vitamin E harus hati-hati,” tulis laporan BMJ.

Peringatan BMJ itu diajukan mengingat semakin meningkatnya konsumsi vitamin E karena vitamin E diduga juga mampu melindungi dari penyakit jantung. Vitamin E adalah antioksidan larut lemak yang terkenal mampu menghambat peroksidasi lipid dan memelihara membran sel. Pereoksidasi lipid berperan penting dalam atherogenesis, sebuah proses di arteri. Penyakit jantung biasanya berhubungan dengan atherogenesis.